H2MOP

Hati-hati Minum Obat Pilek (updated)

      

 
   

 

 

   

       HATI-HATI MINUM OBAT PILEKdr. Iwan Darmansjah, SpFK   
Suatu penelitian retrospektif yang dilaporkan di New England Journal of
Medicine (NEJM) baru saja diumumkan lewat internet mendahului publikasi
resmi. Sudah tentu karena makalah berjudul “Phenylpropanolamine and the
Risk of Hemorrhagic Stroke” itu dianggap penting untuk segera
disebarluaskan.
Fenilpropanolamin (FPA) memang banyak dipakai dalam obat pilek dan
penghilang nafsu makan, meski sejak 20 tahun silam dilaporkan adanya
kasus perdarahan di selaput otak atau di dalam otak setelah makan FPA.
Ia merupakan salah satu komponen simpatomimetika (berefek serupa
perangsangan saraf simpatik) yang digunakan dalam obat pilek. Menurut
urutan efektivitasnya, komponen sejenis dalam obat pilek adalah
efedrin, pseudoefedrin, FPA, dan etilefrin. Obat pilek berbahan
komponen tersebut bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah di selaput
lendir hidung, sehingga pembentukan lendir berkurang. Di samping itu
masih ada golongan antihistamin yang mempunyai efek lemah untuk
membantu meringankan gejala melalui efek antialergi, yang sering
menyertai pilek Biasanya dua komponen ini dicampur dalam obat pilek.
Komponen lain, jika ada, merupakan tambahan yang berlebihan, kecuali
bila obat tersebut memang diindikasikan pula untuk gejala lain,
misalkan demam, sehingga ditambahkan analgetik seperti parasetamol.
Sebenarnya, kalau hanya untuk pilek, dosis FPA cukup 12,5 - 25 mg per
tablet, per kali. Sayangnya, FPA banyak disalahgunakan untuk
menguruskan badan. Sedangkan untuk mengurangi nafsu makan dibutuhkan
dosis sebesar 75 mg atau lebih. Padahal justru pemakaian dosis besar
telah dihubungkan dengan kejadian stroke hemoragik (berdarah), terutama
pada wanita (umumnya wanita muda yang ingin kurus). Risiko kejadian
pada wanita ini mencapai 16.58 kali lebih sering dibandingkan dengan
kejadian stroke hemoragik pada orang yang tidak makan FPA. Sudah tentu
risiko ini sangat tinggi, malahan lebih besar ketimbang risiko kejadian
kanker paru-paru oleh rokok (+ 11.0). Karena pria jarang makan FPA
untuk menguruskan diri, mungkin inilah penyebabnya angka risiko untuk
wanita lebih besar dibandingkan dengan pria. FPA sudah lama saya kenal
sebagai obat pilek yang kurang baik, bukan saja karena efektivitasnya
lebih rendah, tetapi juga karena ia dapat meninggikan tekanan darah
bila dipakai pada dosis 25 mg atau lebih. Di negeri kita, sekitar 10
tahun lalu, karena masalah efek sampingnya sudah dikenal bahkan waktu
itu (hanya buktinya kurang solid)

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Depkes RI,
memberlakukan pembatasan dosis FPA dalam obat pilek hingga 15 mg per
tablet. Namun, entah mengapa banyak pabrik kemudian mendapat izin
menggunakan FPA dalam dosis 25 mg. Padahal, bukankah hal ini dapat
menambah risiko perdarahan di otak ? Itu sebabnya saya sangat setuju
bila sebagai obat obesitas FPA sebaiknya dilarang, sedangkan sebagai
obat pilek dibatasi dosisnya. Sementara itu etilefrin sifatnya juga
seperti FPA dan kurang baik untuk pilek, sehingga perlu pengaturan baru
oleh Ditjen POM. Tinggal efedrin dan pseudoefedrin yang cocok untuk
obat pilek, karena dalam dosis kecil pun efektif, juga tidak menaikkan
tekanan darah atau denyut jantung secara signifikan. Di antara kedua
jenis komponen ini, sebenarnya efedrinlah yang lebih baik. Sayang
sekali industri obat cenderung tidak menggunakannya, meski
efektivitasnya unggul, semata-mata karena margin keuntungannya lebih
rendah (fakta ini telah saya konfirmasikan dengan produsen obat pilek
terbesar di AS, yang juga menggunakan FPA, dan diiyakan). Betapa pun,
baik efedrin maupun pseudoefedrin dalam obat flu perlu dibatasi
dosisnya.
Kini bagaimana kita sebagai konsumen mesti bersikap ? Saya kira ya
jelas, pilihlah yang mengandung efedrin atau pseudoefedrin saja, dengan
dosis kecil. Bila masih mau pakai FPA, ya juga dosisnya tidak lebih
dari 15 mg/tablet saja, dan tentu jangan makan dua tablet sekaligus.
Obat menguruskan badan janganlah dimakan sendiri tanpa petunjuk dokter.
TAMBAHAN: Obat pilek untuk bayi dan anak terlupakan untuk diatur,
rupanya ini juga mengandung FPA terlalu tinggi, malahan ada juga yang
mengandung phenylephrine, yang efek sampingnya banyak.

INTISARI,2001(updated Sep 2005)
      

Leave a Reply