Tata Laksana Demam Berdarah Dengeu

April 5th, 2007 by waro-an

Tata Laksana Demam Berdarah Dengeu
Petunjuk Praktis Terapi Cairan

Pdpersi, Jakarta
- Kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Indonesia dicurigai di Surabaya
pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun
1970. Saat kejadian luarbiasa berlangsung pada tahun 1988, 1039 pasien
dirawat di RSCM dengan case-fatality rate (CFR) mencapai 13%. Data
bagian Rekam Medik RSCM pada tahun 2000 menunjukkan 314 kasus DBD,
dengan CFR 2,2%.

Dengan upaya serta berbagai program Departemen Kesehatan RI
bersama masyarakat berhasil menurunkan CFR nasional dari8 42,8% pada
tahun 1991 menjadi 2% pada saat ini.

Meski pelbagai pedoman pengobatan tersedia tetapi dalam
tatalaksana pasien seringkali dijumpai keadaan yang membingungkan.
Makalah ini dibuat dalam usaha untuk mengatasi kebingungan tersebut di
atas.

Gejala Klinis Demam Berdarah Dengeu
Seperti kita ketahui
diagnosis DBD berdasarkan kriteria WHO (1986). Gejala klinis yang
ditemukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM adalah seperti
terlihat pada tabel di bawah ini:

 
   

   

   

   

 

 

   

   

   

 

 

   

   

   

   

 

GEJALA 1975 - 1978 1985 - 1986 1993 - 1995
(%) (%) (%)

Demam
    Uji tourniquet (+)
    Petekie
    Hematemesis
    Melena
    Syok
    Nyeri Perut
    Trombositeopenia
    Kejang
    Muntah
    Diare

100
    54,5
    79,1
    18,7
    17,9
    64,3
    37,4
    80,7
    7,9
    27,1
    4,4
100
    69,4
    69,4
    8,1
    6,8
    27,7
    51,7
    59,0
    1,6
    71,3
    23,8
100
    64,2
    64,2
    14,2
    15,8
    16,4
    61,5
    76,7
    8,3
    35,0
    23,3

Nyata terlihat bahwa petekie dan uji coba tourniquet tidak selalu ditemukan pada pasien DBD.

Pemeriksaan Penunjang Serologi Pada DBD
Saat ini uji serologi Dengeu dan IgG seringkali diminta untuk
diperiksa. Pada infeksi primer, IgM akan muncul dalam darah hari ke-3,
mencapai puncaknya pada hari ke-5 dan kemudian menurun serta menghilang
setelah 60 - 90 hari. IgG baru muncul kemudian dan terus ada dalam
darah. Pada infeksi sekunder, IgM pada masa akut terdeteksi pada 70%
kasus, sedang sebagian besar IgG (90%), dapat terdeteksi lebih dini
yaitu pada hari ke-2. Apabila ditemukan hasil IgM dan IgG negatif,
tetapi gejala tetap menunjukkan kecurigaan DBD, dianjurkan untuk
mengambil sampel kedua dengan jarak 3-5 hari bagi infeksi primer dan
2-3 hari bagi infeksi sekunder.
Gambar 3. Muncul antibodi IgM dan IgG pada pasien yang terinfeksi virus
dengue. Dikutip dari : WHO publication No. 548

Tatalaksana
Perjalanan penyakit DBD terbagi atas 3 fase :

  1. Fase demam yang berlangsung selama 2-7 hari
  2. Fase kritis/bocornya plasma yang berlangsung umumnya hanya 24-48 jam
  3. Fase penyembuhan (2-7 hari)

Berdasarkan perjalanan penyakit tersebut maka tatalaksana kasus DBD secara umum dapat dibagi atas 3 fase tadi:

Fase demam

  1. Pengobatan sistomatik dan suportif
    • Parasetamol 10 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam (Aspirin dan Ibuprofen
      merupakan indikasi kontra). Kompres hangat diberikan apabila pasien
      masih panas.
    • Pengobatan suportif yang dapat diberikan antara lain larutan oralit, jus buah atau susu dan lain-lain
  2. Apabila pasien memperlihatkan tanda dehidrasi dan muntah hebat,
    koreksi dehidrasi dan apabila cairan intra vena tidak dapat dihentikan,
    jangan lebih dari 24 jam. Apabila cairan intra vena tidak dapat
    dihentikan, berikan cairan secukupnya, sekitar separuh kebutuhan rumatan
  3. Semua pasien tersangka dengeu harus diawasi dengan ketat setiap sejak hari sakit ke-3

Selama fase demam, sulit untuk membedakan antara pasien demam dengeu
(DD) dengan DBD. Ruam makulopapular dan mialga/artralgia lebih banyak
ditemukan pada pasien dengeu. Setelah bebas demam selama 24 jam tanap
antipiretik, pasien demam dengeu akan masuk dalam fase penyembuhan,
sedangkan pasien DBD memasuki fase kritis. Sebagian pasien ini sembuh
setelah pemberian cairan intravena, sedangkan kasus berat akan jatuh ke
dalam fase syok.

Pemantauan
Pemeriksaan Fisis:
- Tanda vital

  • Waspada gejala syok

- Perabaan hati

  • Hati yang membesar dan lunak merupakan indikasi mendekati fase kritis, pasien harus diawasi ketat dan dirawat di rumah sakit

Pemeriksaaan Laboratorium:
- Darah tepi

  • Leukopenia < 5000 sel/mm3 dam limfosis, peningkatan limmbosit
    atipikal mengindentifikasikan dalam waktu 24 jam pasien akan bebas
    demam serta memasuki fase kritis
  • Trombositopenia mengidentifikasikan pasien memasuki fase kritis dan memerlukan pengawasan ketat di Rumah Sakit
  • Peningkatan nilai Ht 10-20 % mengidentifikasikan pasien memasuki
    fase kritis dan memerlukan pengobatan cairan intravena apabila pasien
    tidak dapat minum oral. Pasien harus dirawat dan diberikan cairan
    sesuai kebutuhan. Penurunan Ht merupakan tanda-tanda perdarahan

Berikan penerangan pada orang tua mengenai pertanda gejala syok yang
mengharuskan orang tua membawa anaknya ke Rumah Sakit, antara lain:

  • Keadaan memburuk sewaktu pasien mengalami penurunan suhu
  • Setiap perdarahan
  • Nyeri abdominal akut dan hebat
  • Mengantuk,lemah badan,tidur sepanjang hari
  • Menolak untuk makan dan minum
  • Lemah badan,gelisah
  • Perubahan tingkah laku
  • Kulit dingin dan lembab
  • tidak b.a.k selama 4-6 jam

Indikasi rawat

  • Adanya tanda-tanda syok
  • Sangat lemah sehingga suapan oral tidak dapat mencukupi
  • Perdarahan
  • Hitung trombosit kurang dan sama dengan 100,000/mm3 dan atau peningkatan Ht 10-20%
  • Perburukan ketika penurunan suhu
  • Nyeri abdominal akut hebat
  • Tempat tinggal yang jauh dari Rumah Sakit
  • Fase kritis (berlangsung 24-48 jam) sekitar hari ke-3 sampai dengan hari ke-5 perjalanan penyakit
    Umumnya pada fase ini pasien tidak dapat makan dan minum oleh karena anoreksia atau dan muntah

    Tatalaksana umum

    • Rawat di bangsal khusus atau sudut tersendiri sehingga mudah
      mengawasi. Catat tanda vital, asupan dan luaran cairan dalam lembar
      khusus
    • Berikan oksige pada kasus syok
    • hentikan perdarahan dengan tindakan yang tepat
    • Hindari tindakan prosedur yang tidak perlu, seperti pemasangan pipa nasogastrik pada perdarahan saluran cerna

    Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada pasien dengan resiko tinggi, seperti:

    • Bayi
    • DBD derajat III dan IV
    • Obesitas
    • Perdarahan masif
    • Penurunan kesadaran
    • Mempunyai penyulit lain, seperti talasemia
    • Rujukan

    Tatalaksana Cairan
    Indikasi pemberian cairan intravena:

    • Trombositopenia, peningkatan Ht 10-20%, pasien tidak dapat makan dan minum melalui oral
    • Syok

    Jenis cairan pilihan

    • Kristaloid (jenis cairan pilihan diantaranya: ringer laktat dan ringer asetat terutama pada fase syok)
    • Koloid (diidentifikasikan pada keadaan syok berulang atau syok berkepanjangan)

    Jumlah cairan

    • Selama fase kritis pasien harus menerima sejumlah cairan rumatan ditambah defisit 5-8 % atau setara dehidrasi sedang
    • Pada pasien dengan berat badan lebih dari 40 kg, total cairan intravena dengan dua kali rumatan
    • Pada pasien obesitas, perhitungkan cairan intravena berdasarkan berat badan ideal.

    Tetesan

    • Pada kasus non syok, untuk pasien dengan berat badan (BB) dengan
      BB<15 kg, awali dengan 6-7 ml/kg/jam. Antara 15-40 kg awali dengan
      tetesan sebanyak 5 ml/kg/jam, sedangkan pada anak dengan BB>40 kg
      cairan cukup 3-4 ml/kg/jam. Untuk kasus DBD derajat III, mulai dengan
      tetesan 10 ml/kg/jam
    • Kasus DBD derajat IV, berikan cairan 10 ml/kgBB atau tetesan lepas
      selama 10-15 menit sampai tekanan darah dan nadi dapat diukur, kemudian
      turunkan sampai 10 ml/kg/jam

    Penyesuaian tetesan
    Setelah masa kritis terlampaui maka pasien akan masuk dalam fase
    penyembuhan, yang mana pada saat ini keadaan overload mengancam. Pada
    pasien DBD cairan intravena harus diberikan dalam jumlah minimal agar
    sirkulasi intrvaskuler tetap memadai, sebab apabila lebih banyak cairan
    yang diberikan akan terjadi kebocoran ke dalam rongga pleura dan
    abdominal yang menyebabkan distres pernafasan di kemudian hari. Tetesan
    intravena harus disesuiakan dengan :

    • Kondisi klinis: penampilan umum, pengisisan kapiler, nafsu makan
    • Tanda vital: tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nafas
    • Hematokrit
    • Luaran urin

    Enam sampai 12 jam pertama setelah syok, tekanan darah dan nadi
    merupakan parameter penting untuk menentukan tetesan, tetapi kemudian
    perhitungkan semua parameter sekaligus sebelum mengatur tetesan.

    Pemantauan syok

    • Setelah resusitasi awal, pantau pasien 1 samapai 2 jam. Apabila
      tetesan tidak dapat dikurangi manjadi <10 ml/kg/jam, oleh karena
      tanda vital tidak stabil (tekanan nadi sempit, cepat dan lemah), ulangi
      pemerikasaan Ht
    • Apabila ada kenaikan, ganti cairan dengan koloid
      (pilihan:dextran-40) dengan tetesan 10 ml/kg/jam, siapkan darah dan
      nilai kembali pasien untuk kemungkinan pemberian transfusi darah
      apabila diperlukan
    • Pada pasien derajat IV:
      • Apabila nilai Ht awal rendah, pikirkan kemungkinan perdarahan
        internal dan pantau nilai Ht lebih sering, berikan transfusi darah
        segera
      • Koreksi gangguan metabolit dan elektrolit, seperti hipoglikemia, hiponatremia, dan asidosis
      • Setelah 6 jam, apabila Ht menurun, meski telah diberikan sejumlah
        besar cairan pengganti, tetesan tidak dapat diturunkan sampai < 10
        ml/kg/jam, maka pertimbangkan untuk pemberian transfusi darah segera

    Cairan koloid pilihan

    • Dextran-40 (10% dekstran dalam normal salin) hiperonkogenitas
      (osmolaritas 3X dari plasma), sehingga dapat mengikat volume lebih
      baik. Cairan koloid lain, atau plasma sendiri merupakan plasma
      pengganti dan mempunyai osmolaritas 1-1,4X daripada plasma
    • Tetesan dextran-40 harus 10 ml/kg/jam sehingga dapat mempertahankan osmolaritas maksimum ketika diberikan kepada pasien
    • Dosis maksimum dekstran-40 adalah 30 ml/kg/jam. Jangan memberikan
      lebih dari sejumlah ini karena akan menyebabkan gagal ginjal akut

    lama pemberian cairan

    Jangan melebihi 24-48 jam

    Indikasi transfusi darah

    • Kehilangan darah bermakna, mis. > 10% volume darah total (Total
      volume darah=80 ml/kg). Berikan darah sesuai kebutuhan. Apabila packed
      red cell (PRC) tidak tersedia, dapat diberikan sediaan darah segar
    • Pasien dengan perdarahan tersembunyi. Penurunan Ht dan Tanda Vital
      yang tidak stabil meski telah diberi cairan pengganti dengan volume
      yang cukup banyak, berikan sediaan darah segar 10 ml/kg/kali atau PRC 5
      ml/kg/kali

    Indikasi transfusi trombosit

    Hanya diberikan pada perdarahan masif. Dosis: 0,2 U/kg/dosis

    Fase penyembuhan
    Secara umum, sebagian besar pasien DBD akan sembuh tanpa komplikasi
    dalam waktu 24-48 jam setelah syok. Indikasi pasien masuk ke dalam fase
    penyembuhan adalah:

    • Keadaan umum membaik
    • Meningkatnya nafsu makan
    • Tanda vital stabil
    • Ht stabil dan menurun sampai 35-40%
    • Diuresis cukup
    • Dapat ditemukan confluent petechial rash
    • Sinus bradikardi

    Cairan intravena harus dihentikan segera apabila memasuki fase
    ini. Apabila nafsu makan tidak meningkat dan perut terlihat kembung
    dengan atau tanpa penurunan atau menghilangnya bising usus, kadar
    kalium harus diperiksa oleh karena terjadi fase hipokalemia pada fase
    ini (fase diuresis). Buah-buahan atau jus buah atau larutan oralit
    dapat diberikan untuk menanggulangi gangguan elektrolit ini

    Indikasi pulang

    • Paling tidak 24 jam tidak demam tanpa antipiretik
    • Secara klinis tampak perbaikan
    • Nafsu makan baik
    • Nilai Ht stabil
    • Tiga hari sesudah syok
    • Tidak ada sesak nafas atau takipnea
    • trombosit kurang dari dan sama dengan 50.000/mm3

    Kesimpulan
    Menegakkan diagnosis serta tatalaksana infeksi dengeu tidaklah mudah,
    untuk itu perlu dipahami perjalanan penyakit agar tercapai pengobatan
    yang rasionil, dalam rangka upaya mengurangi angka kematian.

    Oleh: Hindra Satari
    Bag. Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM

PERAWATAN PASIEN DENGAN KOLOSTOMI PADA PENDERITA CANCER COLORECTAL

March 27th, 2007 by waro-an

PERAWATAN PASIEN DENGAN KOLOSTOMI PADA PENDERITA CANCER COLORECTAL IKHSANUDDIN AHMAD HARAHAP Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Cancer colorectal, adalah suatu tumor malignan yang muncul dari jaringan epithelial dari colon atau rectum. PATOFISIOLOGI Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang berkembang dari polyp adenoma. Insidensi tumor dari kolon kanan meningkat, meskipun umumnya masih terjadi di rektum dan kolon sigmoid. Pertumbuhan tumor secara tipikal tidak terdeteksi, menimbulkan beberapa gejala. Pada saat timbul gejala, penyakit mungkin sudah menyebar kedalam lapisan lebih dalam dari jaringan usus dan oragan-organ yang berdekatan. Kanker kolorektal menyebar dengan perluasan langsung ke sekeliling permukaan usus, submukosa, dan dinding luar usus. Struktur yang berdekatan, seperti hepar, kurvatura mayor lambung, duodenum, usus halus, pankreas, limpa, saluran genitourinary, dan dinding abdominal juga dapat dikenai oleh perluasan. Metastasis ke kelenjar getah bening regional sering berasal dari penyebaran tumor. Tanda ini tidak selalu terjadi, bisa saja kelenjar yang jauh sudah dikenai namun kelenjar regional masih normal (Way, 1994). Sel-sel kaner dari tumor primer dapat juga menyebar melalui sistem limpatik atau sistem sirkulasi ke area sekunder seperti hepar, paru-paru, otak, tulang, dan ginjal. “Penyemaian” dari tumor ke area lain dari rongga peritoneal dapat terjadi bila tumor meluas melalui serosa atau selama pemotongan pembedahan. Awalnya sebagai nodul, kanker usus sering tanpa gejala hingga tahap lanjut. Karena pola pertumbuhan lamban, 5 sampai 15 tahun sebelum muncul gejala (Way, 1994). Manifestasi tergantung pada lokasi, tipe dan perluasan, dan komplikasi. Perdarahan sering sebagai manifestasi yang membawa klien datang berobat. Gejala awal yang lain sering terjadi perubahan kebiasaan buang air besar, diarrhea atau konstipasi. Karekteristik lanjut adalah nyeri, anorexia, dan kehilangan berat badan. Mungkin dapat teraba massa di abdomen atau rektum. Biasanya klien tampak anemis akibat dari perdarahan Prognosis kanker kolon tergantung pada stadium penyakit saat terdeteksi dan penanganannya. sebanyak 75 % klien kanker kolorektal mampu bertahan hidup selama 5 tahun. Daya tahan hidup buruk / lebih rendah pada usia dewasa tua (Hazzard et al., 1994). Komplikasi primer dihubungkan dengan kanker kolorektal : (1) obstruksi usus diikuti dengan penyempitan lumen akibat lesi; (2) perforasi dari dinding usus oleh tumor, diikuti kontaminasi dari rongga peritoneal oleh isi usus; (3) perluasan langsung tumor ke organ-organ yang berdekatan. PERAWATAN KOLABORATIF Fokus perawatan kolaboratif bagi klien kanker kolorektal untuk membangun diagnosis yang akurat dan stadium penyakit dan menentukan penanganan. Tergantung pada adanya perluasan penyakit saat didiagnosis, penanganan pada 5 tahun pertama rata-rata dapat berhasil 80 – 100 %. Kanker kolorektal selalu ditangani dengan pembedahan, dengan kemoterapi dan terapi radiasi.
TEST DIAGNOSTIK DAN LABORATORIUM Karena kanker kolorektal sering berkembang lamban dan penanganan stadium awal sangat dibutuhkan, maka organisasi kanker Amerika merekaomendasikan prosedur skreening rutin bagi deteksi awal penyakit. Rekomendasinya sebagai berikut. 1. Pemeriksaan rektal tuse untuk semua orang usia lebih dari 40 tahun 2. Test Guaiac untuk pemeriksaan darah feces bagi usia lebih dari 50 tahun 3. Sigmoideskopi tiap 3 – 5 tahun untuk tiap orang usia lebih dari 50 tahun Klien dengan praduga kanker kolorektal dapat dilakukan prosedur diagnostik lanjut untuk pemeriksaan fisik. Test laboratorium, radiography, dan biopsy untuk memastikan. Test laboratorium yang dianjurkan sebagai berikut : 1. Jumlah sel-sel darah untuk evaluasi anemia. Anemia mikrositik, ditandai dengan sel-sel darah merah yang kecil, tanpa terlihat penyebab adalah indikasi umum untuk test diagnostik selanjutnya untuk menemukan kepastian kanker kolorektal. 2. Test Guaiac pada feces untuk mendeteksi bekuan darah di dalam feces, karena semua kanker kolorektal mengalami perdarahan intermitten. 3. CEA (carcinoembryogenic antigen) adalah ditemukannya glikoprotein di membran sel pada banyak jaringan, termasuk kanker kolorektal. Antigen ini dapat dideteksi oleh radioimmunoassay dari serum atau cairan tubuh lainnya dan sekresi. Karena test ini tidak spesifik bagi kanker kolorektal dan positif pada lebih dari separuh klien dengan lokalisasi penyakit, ini tidak termasuk dalam skreening atau test diagnostik dalam pengobatan penyakit. Ini terutama digunakan sebagai prediktor pada prognsis postoperative dan untuk deteksi kekambuhan mengikuti pemotongan pembedahan (Way, 1994). 4. Pemeriksaan kimia darah alkaline phosphatase dan kadar bilirubin dapat meninggi, indikasi telah mengenai hepar. Test laboratorium lainnya meliputi serum protein, kalsium, dan kreatinin. 5. Barium enema sering digunakan untuk deteksi atau konfirmasi ada tidaknya dan lokasi tumor. Bila medium kontras seperti barium dimasukkan kedalam usus bagian bawah, kanker tampak sebagai massa mengisi lumen usus, konstriksi, atau gangguan pengisian. Dinding usus terfiksir oleh tumor, dan pola mukosa normal hilang. Meskipun pemeriksaan ini berguna untuk tumor kolon, sinar-X tidak nyata dalam mendeteksi rektum (Way,1994). 6. X-ray dada untuk deteksi metastase tumor ke paru-paru 7. CT (computed tomography) scan, magnetic resonance imaging (MRI), atau pemeriksaan ultrasonic dapat digunakan untuk mengkaji apakah sudah mengenai organ lain melalui perluasan langsung atau dari metastase tumor. 8. Endoskopi (sigmoidoscopy atau colonoscopy) adalah test diagnostik utama digunakan untuk mendeteksi dan melihat tumor. Sekalian dilakukan biopsy jaringan. Sigmoidoskopi fleksibel dapat mendeteksi 50 % sampai 65 % dari kanker kolorektal. Pemeriksaan enndoskopi dari kolonoskopi direkomendasikan untuk mengetahui lokasi dan biopsy lesi pada klien dengan perdarahan rektum. Bila kolonoskopi dilakukan dan visualisasi sekum, barium enema mungkin tidak dibutuhkan. Tumor dapat tampak membesar, merah, ulseratif sentral, seperti penyakit divertikula, ulseratif kolitis, dan penyakit Crohn’s. ©2004 Digitized by USU digital library 1
PEMBEDAHAN Pemotongan bedah pada tumor, kolon yang berdekatan, dan kelenjar getah bening yang berdekatan adalah penanganan pilihan untuk kanker kolorektal. Penanganan pembedahan bervariasi dari pengrusakan tumor oleh laser photokoagulasi selama endoskopi sampai pemotongan abdominoperineal (APR = abdominoperineal resection) dengan colostomy permanen. Bila memungkinkan, spingkter anal dipertahankan dan hidari kolostomy (Way, 1994). Laser photokoagulasi digunakan sangat kecil, usus diberi sorotan sinar untuk pemanasan langsung jaringan didalamnya. Panas oleh laser umumnya dapat digunakan untuk merusak tumor kecil. Juga digunakan untuk bedah palliatif atau tumor lanjut untuk mengangkat sumbatan. Laser photokoagulasi dapat dibentuk berupa endoskopik dan digunakan untuk klien yang tidak mampu / tidak toleransi untuk dilakukan bedah mayor. Penanganan bedah lain untuk yang kecil, lokalisasi tumor termasuk pemotongan lokal dan fulguration. Prosedur ini juga dapat dilakukan selama endoskopi, dengan mengeluarkan jarum untuk bedah abdomen. Eksisi local dapat digunakan untuk mengangkat pengerasan di rectum berisi tumor kecil, yang differensiasi baik, lesi polipoid yang mobile / bergerak bebas. Fulguration atau elektrokoagulasi digunakan untuk mengurangi ukuran tumor yang besar bagi klien yang risiko pembedahan jelek. Prosedur ini umumnya dilakukan anesthesia umum dan dapat dilakukan bertahap (Way, 1994). Banyak klien dengan kanker kolorektal dilakukan pemotongan bedah dari kolon dengan anastomosis dari sisa usus sebagai prosedur pengobatan. Penyebaran ke kelenjar getah bening regional dibedakan untuk dipotong bila berisi lesi metastasis (Way, 1994). Sering tumor di bagian asending, transverse, desending, dan colong sigmoid dapat dipotong. Tumor pada rektum biasanya ditangani dengan pemotongan abdominoperineal dimana kolon sigmoid, rektum, dan anus diangkat melalui insisi abdominal dan insisi perineal. Kolostomy sigmoid permanen dilakukan untuk memfasilitasi pengeluaran feses. Perawatan klien dengan bedah usus lihat di perawtan pre dan post operatif bedah usus. Pemotongan bedah usus dapat dikombinasi dengan kolostomy untuk pengeluaran isi usus / feses. Kolostomy adalah membuat ostomi di kolon. Dibentuk bila usus tersumbat oleh tumor, sebagai pemeriksaan sementara untuk mendukung penyembuhan dari anastomoses, atau sebagai pengeluaran feces permanen bila kolon bagian distal dan rektum diangkat / dibuang. Kolostomy diberi nama berdasarkan : asending kolostomi, trasverse kolostomi, desending kolostomi, dan sigmoid kolostomi. Kolostomi sigmoid sering permanen, sebagian dilakukan untuk kanker rektum. Biasanya dilakukan selama reseksi / pemotongan abdominoperineal. Prosedur ini meliputi pengangkatan kolon sigmoid, rektum, dan anus melalui insisi perineal dan abdominal. Saluran anal ditutup, dan stoma dibentuk dari kolon sigmoid proximal. Stoma berlokasi di bagian bawah kuandran kiri abdomen. Bila colostomi double barrel, dibentuk dua stoma yang berpisah. Colon bagian distal tidak diangkat, tetapi dibuat saluran bebas / bypass. Stoma proximal yang fungsional, mengalirkan feces ke dinding abdomen. Stoma distal berlokasi dekat dengan stoma ptoximal, atau di akhir dari bagian tengah insisi. Disebut juga mukus fistula, stoma distal mengeluarkan mukus dari colon distal. Dapat dibalut dengan balutan kasa 4 X 4 inci. Colostomi double barrel dapat diindikasikan untuk kasus trauma, tumor, atau peradangan, dan dapat sementara atau permanen.
©2004 Digitized by USU digital library 2
Dalam prosedur emergensi digunakan untuk mengatasi sumbatan usus atau perforasi yang disebut colostomi “transverse loop”. Selama prosedur, loop dari colon transverse dibawa keluar dari dinding abdominal dan didigantungkam diatas tangkai atau jembatan plastik, yang mencegah loop terlepas dari belakang ke dalam rongga abdomen. Stoma loop dapat dibuka pada saat bedah atau beberapa hari kemudian cukup di tempat tidur klien. Jembatan dapat di buka dalam 1 – 2 minggu. Kolostomi loop transverse biasanya sementara / tidak permanen. Pada prosedur Hartmann, prosedur colostomi sementara, bagian distal dari colon ditempatkan di kiri dan diawasi untuk ditutup kembali. Kolostomi sementara dapat dibentuk bila usus istirahat atau dibutuhkan penyembuhan, seperti pemotongan tumor atau peradangan pada usus. Juga dibentuk akibat injuri traumatik pada colon, seperti luka tembak. Bedah penyambungan kembali atau anastomosa dari bagian kolon tidak dilakukan segera karena kolonisasi bakteri berat dari luka kolon tidak dikiuti penyembuhan sempurna dari anastomosa. Berkisar 3 – 6 bulan diikuti kolostomi sementara, kolostomi ditutup dan dibentuk anastomosa colon. Klien dengan kolostomi sementara diberikan perawatan yang sama dengan klien dengan colostomi permant. Perawatan klien dengan colostomi lihat table (perawatan kolostomi pre dan post operatif). Perawatan colaboratif klien dengan colostomi lihat table. RADIOTERAPI Terapi radiasi sering digunakan sebagai tambahan dari pengangkatan bedah dari tumor usus. Bagi kanker rektal yang kecil, intrakavitari, eksternal, atau implantasi radiasi dapat dengan atau tanpa eksisi bedah dari tumor. Radiasi preoperative diberikan bagi klien dengan tumor besar sampai lengkap pengangkatan. Bila terapi radiasi megavoltase digunakan, kemungkinan dalam kombinasi dengan kemoterapi, karsinoma rektal berkurang ukurannya, sel-sel jaringan limpatik regional dibunuh, dan kekambuhan lamban atau tidak kambuh sama sekali (Berkow & Fletcher, 1992; way, 1994). Terapi radiasi megavoltase juga dapat digunakan postoperatif untuk mengurangi risiko kekambuhan dan untuk mengurangi nyeri. Lesi yang terfiksir luas tidak diangkat dapat ditangani dengan mengurangi pemisah / hambatan dan memperlambat berkembangnya kanker. KEMOTERAPI Agen-agen kemoterapi, seperti levamisole oral dan intravenous fluorouracil (5-FU), juga digunakan postoperatif sebagai terapi ajuvan untuk kanker kolorektal. Bila dikombinasi dengan terapi radiasi, kontrol pemberian kemoterapi lokal dan survive bagi klien dengan stadium II dan III dengan tumor rektum. Keunggulan bagi kanker kolon adalah bersih, tetapi kemoterapi dapat digunakan untuk menolong mengurangi penyebaran ke hepar dan mencegah kekambuhan. Leucovorin dapat juga diberikan dengan 5-FU untuk meningkatkan efek antitumor. PERAWATAN Dalam perencanaan dan implementasi perawatan klien dengan kanker kolorektal, perawat perlu untuk memperhatikan tidak hanya perawatan fisik tetapi juga respon emosional klien untuk diagnosis. Karena kanker kolorektal sering terdiagnosa pada tahap lanjut, prognosis meskipun sudah ditangani, dapat jelek. Klien dapat mengalami perasaan denial dan marah. Pembedahan abdomen dan kemungkinan dilakukan kolostomi dapat terjadi atau direncanakan. Ditambah lagi, diagnostik test
©2004 Digitized by USU digital library 3
dan efek kemoterapi dan terapi radiasi dapat meninggalkan ekefek kelelahan pada klien dan berkecil hati. Perawatan adalah bantuan menyediakan dukungan emosional, pengajaran klien tentang prosedur diagnostik tertentu, perawatan preoperatif dan postoperatif bila indikasi pembedahan, dan instruksi perawatan kolostomi bila dibentuk stoma. Diagnosa keperawatan prioritas untuk klien ini adalah nyeri, perubahan nutrisi, dan berduka antisipatori. Risiko disfungsi seksual juga sebagai prioritas bila dilakukan pembedahan untuk membentuk colostomi. NYERI Klien dengan kanker kolorectal dapat mengalami nyeri dari berbagai sumber. Pemeriksaan diagnostik dan preparat prosedur sering tidak nyaman. Biasanya semua klien dengan kanker kolorektal akan mengalami prosedur pembedahan, sering mengenai abdomen dan kemungkinan insisi perineal. Bila reseksi abdominoperineal dilakukan, klien dapat mengalami nyer “phantom” rektal. Ketidaknyamanan ini berhubungan dengan pemutusan saraf selama eksisi di rectum. Akhirnya, tumor itu sendiri dan, kemungkinan, tumor yang bermetastase dapat mengenai saraf dan organ-organ lainnya, menyebabkan nyeri. Pada awal postoperatif, pasien dikontrol dengan analgesia (PCA = patient control analgesia) dapat sangat efektif dalam mengurangi rasa tidak nyaman, dapat diberikan secara rutin. Pemeriksaan ini dapat juga dilakukan dengan analgesia kontinue. Fokus perawatan pada pengkajian keadekuatan penanganan nyeri, perlu atau tidaknya meningkatkan analgesik, dan memastikan apakah benar-benar rasa nyeri atau rasa takut. PERAWATAN KLIEN DENGAN BEDAH USUS PREOPERATIF 1. Pastikan tanda-tanda valid untuk prosedur. Ini berguna bagi pasien dan anggota keluarga untuk memahami prosedur dan kemungknan risiko dan keunggulan, sebaiknya alternatif untuk persiapan prosedur. Penandatanganan format persetujuan khususnya untuk prosedur sebagai dokumentasi bahwa klien dan keluarga setuju untuk dilakukan prosedur. 2. Kaji pemahaman klien dan keluarga tentang prosedur, klarifikasi dan interpretasikan sesuai kebutuhan. Beri instruksi apa yang diharapka selama periode postoperatif, meliputi penanganan nyeri; pemasangan selang seperti NGT, IVFD, latihan pernafasan, reintroduksi intake oral makanan dan cairan. Klien yang dipersiapkan dengan baik selama preoperatif biasanya tidak cemas dan mampu lebih baik untuk menolong / mendukung perawatan postoperatif. Persiapan adekuat juga mengurangi kebutuhan narkotik untuk analgesik dan meningkatkan pemulihan klien. 3. Pemasangan NGT postoperatif. Meskipun sering dilakukan pemasangan di kamar bedah hanya untuk pembedahan, NGT dapat dipasang terpasang preoperatif untuk membuang sekresi dan mengosongkan isi lambung. 4. Prosedur persiapan usus. Antibiotik oral dan pareteral sebaiknya kathartik dan enema / ditelan dapat diberikan preoperatif untuk membersihkan usus dan mengurangi risiko kontaminasi peritoneal oleh isi usus selama pembedahan. POST OPERATIF 1. Perawatan rutin untuk klien bedah. Monitor tanda vital dan intake dan output, meliputi drainase lambung dan lainnya dari drain luka. Kaji perdarahan dari insisi abdomen dan perineal, kolostomi, atau anus. Evaluasi komplikasi luka yang lainnya, dan pertahankan integritas psikologi. ©2004 Digitized by USU digital library 4
2. Monitor bising usus dan derajad distensi abdomen. Manipulasi pembedahan dari usus menghentikan peristaltik, menyebabkan ileus. Adanya bising usus dan pasase flatus indikasi kembalinya peristaltik. 3. Sediakan obat pengurang nyeri dan pemeriksaan rasa nyaman, seperti perubahan posisi. Klien yang mengalami nyeri postoperatif adekuat ditangani pemulihan lebih cepat dan mengalami beberapa komplikasi. 4. Kaji status pernafasan, sangga abdomen dengan selimut atau bantal untuk membantu batuk. Pemotongan kanker kolorektal dengan anastomosis usus atau kolostomi adalah bedah mayor abdominal. Perawatan untuk mengurangi nyeri, pertahankan fungsi pernafasan yang adekuat, dan cegah komplikasi pembedahan. 5. Kaji posisi dan patensi NGT, persambungan suction. Bila selang terlipat/sumbat, irigasi dengan gentle / hati-hati dengan normal saline steril. NGT digunakan postoperatif untuk dekompressi gastroinestinal dan fasilitasi penyembuhan dari anastomosa. Memastikan kelancaran penting untuk rasa nyaman dan penyembuhan klien. 6. Kaji warna, jumlah, dan bau drainase dan kolostomi (bila ada), catat berbagai perubahan atau adanya bekuan atau perdarahan berwarna merah terang. Drainase dapat berwarna merah terang dan kemudian gelap dan akhirnya bersih atau hijau kekuningan setelah 2 – 3 hari pertama. Perubahan warna; jumlah; atau bau dari drainase dapat mengindikasikan komplikasi seperti perdarahan, sumbatan usus, atau infeksi. 7. Perhatian bagi seluruh personal perawatan dengan klien reseksi abdomminoperitoneal untuk menghindari pemasangan temperatur rektal, suppositoria, atau prosedur rektal lainnya. Prosedur ini dapat merusak garis jahitan anal, menyebabkan perdarahan, infeksi, atau gangguan penyembuhan. 8. Pertahankan cairan intravena ketika masih dilakukan suction naso gastrik. Klien dengan suction NGT tidak mampu untuk makan dan minum peroral dan, selebihnya, kehilangan elektrolit dan cairan melalui NGT. Bila tidak dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, klien berisiko dehidrasi; ketidakseimbangan sodium, potasium, dan chloride; dan alkalosis metabolik. 9. Pemberian antasid, antagonis histamin2-reseptor, dan terapi antibiotik dianjurkan. Tergantung pada prosedur yang dilakukan. Terapi antibiotik untuk mencegah infeksi akibat dari kontaminasi rongga abdominal dengan isi dari usus. 10. Pemberian cairan dan makanan oral dianjurkan.makanan dapat berupa cairan, dan kemudian diberikan sering dan porsi sedikit. Monitor bising usus dan monitor distensi abdomen sesering mungkin selama periode ini. Oral feeding dilakukan kembali perlahan-lahan untuk meminimalkan distensi abdomen dan trauma terhadap garis jahitan. 11. Anjurkan ambulasi. Merangsang peristaltik 12. Mulai pengajaran dan perencanaan pulang. Konsultasikan dengan ahli diet untuk instruksi diet dan menu; beri penguatan pengajaran. Ajarkan klien tengang kemungkinan komplikasi postoperatif, seperti abses abdominal atau sumbatan usus. Ajarkan klien tentang tanda-tanda dan gejala komplikasi ini dan cara pencegahannya. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan pembedahan dan terapi radiasi 2. Berduka Antisipasi
©2004 Digitized by USU digital library 5
3. Risiko Inefektif Koping individual berhubungan dengan sistem dukungan. 4. Rasa takut berhubungan dengan diagnosa malignansi mendatang yang tidak pasti. 5. Kerusakan Body Image berhubungan dengan adanya stoma di abdomen dan perubahan saluran eliminasi BAB. 6. Kerusakan Interaksi Sosial berhubungan dengan takut akan bau dan kebocoran drainase usus. 7. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang rutinitas perawtan colostomy. 8. Risiko Disfungsi Seksual 9. Pendidikan Klien dan Keluarga INTERVENSI KEPERAWATAN DENGAN RASIONAL 1. Sering mengkaji keadekuatan penanganan nyeri. Gunakan informasi subjektif dan objektif, meliputi :(1) lokasi, intensitas, dan karakter nyeri; (2) tanda-tanda nonverbal, meliputi : wajah meringis, posisi tubuh tegang, tampak terpejam, peningkatan pols, peningkatan atau penurunan tekanan darah, pernafasan cepat dan dangkal. Klien dapat berasumsi bahwa nyeri akan terjadi atau toleransi atau dapat menjadi ketakutan tergantung pengobatan analgesik. Menanyakan dengan seksama dan mengkaji dapat memberikan informasi akurat kepada perawat tentang status nyeri klien, dan berguna mengontrol rasa tidak nyaman klien. 2. Tanyakan klien tentang skala nyeri dalam rentang 0 – 10 (0 = tanpa nyeri, 10 = nyeri sangat). Catat derajat / tingkat nyeri. Nyeri bersifat pengalaman subjektif. Persepsi dan respon klien terhadap nyeri berbeda-beda. Latar belakang keyakinan dan etnik dapat mempengaruhi respon terhadap nyeri. 3. Kaji efektifitas penanganan nyeri ½ jam sesudah pemberian obat. Monitor efektifitas dan efek yang merugikan. Penyesuaian dosis mungkin dibutuhkan untuk mengatasi nyeri tanpa efek yang berbahaya. 4. Kaji luka dari tanda-tanda peradangan atau bengkak; kaji selang drainase dan kelancaran selang. Kurangnya kontrol nyeri atau perubahan nyeri dapat berhubungan dengan distensi organ yang terpasang NGT atau kateter urine atau dapat mengindikasikan andanya infeksi atau abses. 5. Kaji distensi abdomen, tenderness, dan bising usus. Perdarahan intra-abdominal, peritonitits, atau ileus paralitik dapat menyebabkan nyeri dan dapat membingungkan antara nyeri yang diakibatkan oleh bekas insisi. 6. Pemberian obat-obatan nyeri diprioritaskan untuk aktifitas atau prosedur. Analgesik dapat mengurangi rasa tidak nyaman klien, memberi rasa nyaman saat ambulasi. 7. Penanganan nonfarmakologik, seperti posisi, berbagai aktifitas, stimulus lingkungan, inaginasi, dan teknik relaksasi. Teknik ini berguna untuk meningkatkan efek analgesia. 8. Belat / tekan insisi dengan bantal, dan ajarkan klien bagaimana melakukannya saat batuk dan bernafas dalam untuk mencegah komplikasi pernafasan berhubungan ketakutan akan rasa nyeri. Perubahan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Klien yang disangka kanker kolorektal akan dilakukan prosedur-prosedur diagnostik lanjutan berisiko defisiensi nutrisi karena sering dilakukan prosedur persiapan untuk usus dan diet cairan.
©2004 Digitized by USU digital library 6
Postoperative, klien akan puasa hingga fungsi kembali. Cairan dan elektrolit pengganti diberikan sepanjang memungkinkan TPN total parenteral nutrisi. Nutrisi adekuat penting untuk penyembuhan sesudah pembedahan. Bila tumor tahap lanjut, metabolisme klien dapat meningkat dan selera makan berkurang. Intervensi keperawatan dengan rasional : 1. Kaji kesiapan klien untuk makanan enteral sesudah bedah atau prosedur diagnostik gunakan data seperti, rasa lapar, adanya bising usus, keluar flatus, dan distensi abdomen. Sediakan diet sesuai kebutuhan klien. Peristaltic dari saluran gastrointestinal dihambat oleh manipulasi usus. Ini penting untuk memastikan peristaltic bekerja atau tidak. 2. Monitor dan catat intake makanan dan minuman. Catatan intake penting untuk menentukan kebutuhan diet klien. 3. Timbang berat badan klien setiap hari. Fluktuasi berat badan klien indikasi adekuat atau tidak adekuat intake diet. 4. Pertahankan nutrisi total parenteral dan intravena sesuai order. Klien yang tidak mampu makan peroral selama lebih dari 2 atau 3 hari berikan nutrisi parenteral untuk mencegah katabolisme jaringan dan fasilitasi penyembuhan. 5. Bila intake oral telah mampu, bertahap diberikan bubur. Partisipasi klien menuruti perawat untuk kemajuan diet seperti suka atau tidak suka klien dan menemukan kebutuhan skejul dan lingkungan klien. PERAWATAN KOLABORATIF : KLIEN DENGAN KOLOSTOMI TEAM PERAWATAN PUSAT PERAWATAN KLIEN Gastroenterologist Bedah Umum Oncologist Terapist Enterostomal Pekerja Sosial Dietititan RN dan Perawat Kesehatan Team Komunikasi Dokter konsul utama. Dapat dilakukan endoskopi bila ada indikasi Pengkajian preoperative, mengangkat penyakit di usus dan membuat kolostomi, menangani postoperative, monitor hasil pembedahan. Bagi klien dengan diagnosis kanker, membuat rekomendasi pembedahan, radiasi, dan/atau kemiterapi, monitor respon terhadap terapi Preoperative, evaluasi kebutuhan klien akan ostomi untuk posisi stoma. Postoperative membantu klien dan keluarga untuk menangani ostomi dan memberikan pengajaran berhubungan dengan perawatan stomal. Memberikan kantong yang dibutuhkan, mengajarkan perawatan kulit, dan aplikasi dan mengosongkan kantong luar. Mensuplai kebutuhan-kebutuhan. Mengatur kunjungan perawat untuk membantu perawatan stoma dan balutan. Merujuk klien dan keluarga ke organisasi kanker dan stoma. Membuat rekomendasi tentang terapi nutrisi seperti total nutrisi parenteral, enteral feeding, vitamin-vitamin, dan mineral-mineral. Memberi pengajran tentang strategi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan menghindari produk makanan yang mengandung gas. Melaporkan distensi abdominal, nyeri berat, mual atau muntah, tanda dan gejala perdarahan atau infeksi kepada dokter. Konsultasi dengan terapist enterostomal tentang kemajuan / kelanjutan klien dengan pendidikan dan perawatan mandiri ostomi. Diskusi antisipasi kebutuhan perawatan di rumah dengan klien. Kolaborasi dengan ©2004 Digitized by USU digital library 7
dietitian untuk memberikan diet yang seimbang untuk di konsumsi oleh klien. PERAWATAN KLIEN DENGAN KOLOSTOMI PREOPERATIF 1. Hubungi perawat terapist enterostomal (ET) untuk memberikan rekomendasi lokasi stoma dan pengajaran yang diperlukan. Perawat ET terutama yang di latih untuk bekerja dengan klien dalam merencanakan penanganan kolostomi. Factor-faktor seperti berat badan klien, cara berpakaian klien, dan garis pinggang dipertimbangkan dalam penempatan stoma untuk memfasilitasi rasa nyaman dalam perawatan jangka panjang dan mempermudah penanganan. 2. Jawab pertanyaan-pertanyaan klien langsung, berikan klarifikasi dari informasi yang diperlukan. Klien yang memahami perawatan preoperative dan postoperative dengan baik akan berkurang rasa cemas dan mampu bekerjasama dalam penanganan dengan lebih baik. 3. Rujuk ke kelompok ostomi sesuai kebutuhan klien. Berbicara dengan seseorang yang telah memakai ostomi dapat menolong klien menjadi lebih nyaman dengan kolostomi. POSTOPERATIF 1. Kaji lokasi dan tipe kolostomi yang dibentuk. Lokasi stoma adalah indicator letak lokasi pemotongan usus dan predictor tipe drainasi fekal. 2. Kaji tampilan stoma dan kondisi kulit disekitarnya dengan rutin. Pengkajian stoma dan kondisi kulit penting diawal periode postoperative, kalau-kalau terkadi komplikasi untuk segera ditangani. 3. Posisi kantong penampung drain diatas stoma. Biasanya drainase dapat berisi lebih banyak mucus dan cairan serosangrineous dari pada material fekal. Mulainya usus berfungsi, fekal akan menjadi normal. Konsistensi drainase tergantung pada stoma di bagian lokasi usus. 4. Kolostomi desending atau sigmoid dapat ditangani dengan menggunakan kantong drainable atau irigasi. Pola eliminasi dari kolostomi sigmoid hampir sama dengan pola eliminasi normal klien sebelum operasi. Banyak klien akan buang air besar tiap hari dan tidak terus menerus menggunakan kantong atau sistem drainase. Untuk lebih aman gunakan kantong transparan. 5. Bila perlu, berikan kantong kolostomi irigasi, masukkan air ke dalam kolon sesuai prosedur irigasi kolostomi. Air akan merangsang pengosongan kolon. Klien dapat melakukan irigasi kolon tiap hari. 6. Bila dianjurkan irigasi kolostomi untuk klien dengan double-barrel atau kolostomi loop, irigasi stoma di bagian proksimal. Pengkajian digital / dengan jari pada usus langsung dari stoma dapat menolong membedakan yang mana stoma proksimal. Usus bagian distal tidak mengandung fekal dan tidak perlu diirigasi. Kadang-kadang dapat diirigasi hanya untuk membersihkan terutama reanastomosa. 7. Pengosongan kantong drainable atau penggantian kantong kolostomi bila diperlukan atau saat telah penuh 1/3 bagian kantong. Bila kantong kepenuhan, beratnya dapat merusak kantong dan perekat dan menyebabkan kebocoran. 8. Klien dengan kolostomi asending atau transverse tidak dilakukan irigasi. Hanya sebagian kolon yang berfungsi, dan drainase fekal umumnya cair dan terus menerus.
©2004 Digitized by USU digital library 8
9. Berikan perawatan stoma dan kulit klien. Perawatan kulit dan stoma yang baik penting untuk mempertahankan integritas kulit dan fungsi untuk pertahanan utama terhadap infeksi. 10. Gunakan bahan-bahan dempul, seperti perekat stoma (stomahesive) atau “karaya paste”, dan “wafer” (bubuk obat) yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan kantong ostomi. Ini kadang-kadang penting bagi klien dengan kolostomi loop. Tantangan bagi klien dengan kolostomi loop transverse adalah untuk menjaga keamanan kantong stoma diatas jembatan plastik. 11. Sebuah lubang pada kantong kolostomi akan menyalurkan flatus keluar. Lubang ini dapat ditutup dengan “Band-Aid’ an dibuka hanya bila klien mandi untuk kontrol bau. Kantong ostomi dapat menggembung keluar, merusak integritas kulit, bila gas terkumpul terlalu banyak DAFTAR PUSTAKA Hampton, B.G. dan Bryant, R.A. Medical Surgical nursing : Assesment Nursing Management. St.Louis : Mosby Year Book, 1992. Black, J.M. dan Jacobs, E.M. Medical Surgical Nursing : A Psychophysiologic Approach. Ed.4. Philadelphia : W.B Saunders Company, 1993. Price, S.A. dan Wilson. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed. 4. Jakarta ; Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995. Lewis, S.M. dan Heitkemper, M.M. Medical Surgical Nursing : Assesment & Management of Clinical Problems. Ed.5. St.Louis : Mosby, 2000.
©2004 Digitized by USU digital library 9

DOKUMENTASI KEPERAWATAN

March 21st, 2007 by waro-an

DOKUMENTASI

 

 

 

WAKTU: 2 sesi @ 90 menit (180 menit)

 

 

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

 

Mengenalkan kepada para
peserta untuk memahami mengenai pentingnya dokumentasi keperawatan dan
kebidanan dalam penyediaan pelayanan perawat dan bidan. Penulisan dokumentasi
perawat mendukung dan melaporkan bahwa pelaksanaan tugas perawat/bidan telah
dilaksanakan dan mengindikasikan hasil kondisi para pasen. “Jika belum
didokumentasikan, berarti belum dilakukan perawatannya” ini, merupakan aksioma
perawat.

 

TUJUAN
INSTRUKSIONAL KHUSUS

 

1. Untuk mengetahui apa itu
dokumentasi

2. Untuk memahami tujuan dokumentasi

3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip
dokumentasi

4. Untuk mengetahui teknik
pendokumentasian

5. Untuk mengetahui bagaimana
menerapkan pelayanan keperawatan/kebidanan melalui pendokumentasian

 

MATERI

 

1. Definisi dari dokumentasi

2. Tujuan pendokumentasian dalam
keperawatan/kebidanan

3. Prinsip-prinsip pendokumentasian

4. Teknik
dokumentasi dalam pelayanan keperawatan/kebidanan

5. Berbagai macam metode
pendokumentasian

 

METODA

 

1. Kuliah Singkat

2. Tugas Kelompok

3. Diskusi dan Presentasi

RENCANA
PEMBELAJARAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sesi I

 

 

Sesi II

 

 

Bagian A.

 

 

 

Metode :

 

Topik :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Durasi :

 

 

 

 

 

 

Kuliah
  singkat

 

Perkenalan kinerja pelaporan dan pendokumentasian untuk
  keperawatan/kebidanan

 

 

 

 

 

 

 

45 menit

 

 

Bagian B.

 

 

 

Kelompok kecil diskusi tentang
  bagaimana dapat menjamin pendokumentasian tersebut telah dilakukan

 

 

 

 

 

 

 

30 menit

 

 

 

 

Bagian B

 

 

 

Metode :

 

Topik :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Durasi :

 

 

 

 

 

 

Kelompok Diskusi

 

Penyeleksian
  dokumentasi yang tersedia untuk perawat di rumah sakit/puskesmas.

 

 

 

 

 

 

 

30 menit

 

 

Bagian C

 

 

 

Kelompok besar diskusi tentang cara penjaminan
  dokumentasi telah dilakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

30 menit

 

 

Bagian C

 

 

 

Metode :

 

Topi :

 

 

 

 

 

 

 

Duration:

 

 

 

 

 

 

Diskusi panel
  untuk perawat dan bidan, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
  diskusinya

 

 

 

35 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DOKUMENTASI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Pelayanan keperawatan/kebidanan merupakan pelayanan profesional dari
pelayanan kesehatan yang tersedia selama
24 jam secara berkelanjutan selama masa perawatan pasien. Dengan demikian,
pelayanan keperawatan dan kebidanan
memegang peranan penting dalam upaya menjaga dan meningkatkan kualitas
pelayanan di rumah sakit dan puskesmas.

Dokumentasi
keperawatan dan kebidanan tidak hanya merupakan dokumen sah tapi juga instrumen
untuk melindungi para pasien, perawat dan bidan secara sah; oleh karena itu,
perawat/bidan diharapkan dapat bekerja sesuai dengan standar profesional.

 

PENGERTIAN

 

 Tungpalan (1983) mengatakan bahwa “Dokumen adalah
suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum“. Sedangkan
pendokumentasian adalah pekerjaan
mencatat atau merekam peristiwa dan objek maupun aktifitas
pemberian jasa (pelayanan) yang dianggap berharga dan penting .

 Dokumentasi asuhan dalam
pelayanan keperawatan dan kebidanan adalah bagian dari kegiatan yang
harus dikerjakan oleh perawat dan
bidan setelah memberi asuhan kepada
pasen. Dokumentasi merupakan suatu
informasi lengkap meliputi status kesehatan pasen, kebutuhan pasen, kegiatan asuhan keperawatan/kebidanan
serta respons pasen terhadap asuhan yang
diterimanya. Dengan demikian dokumentasi
keperawatan/ kebidanan mempunyai porsi yang besar dari catatan klinis pasen yang menginformasikan faktor tertentu atau situasi yang terjadi selama asuhan dilaksanakan. Disamping itu catatan juga dapat sebagai wahana komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner) yang dapat dipergunakan
untuk mengungkap suatu fakta aktual untuk dipertanggungjawabkan. 

 Dokumentasi asuhan keperawatan/kebidanan merupakan bagian
integral dari asuhan keperawatan /kebidanan yang dilaksanakan sesuai standar.
Dengan demikian pemahaman dan ketrampilan dalam menerapkan standar dengan baik merupakan suatu hal

 

 

yang mutlak bagi setiap tenaga
keperawatan/kebidanan agar mampu membuat
dokumentasi keperawatan/kebidanan secara
baik dan benar

 

PENDOKUMENTASIAN

 

 Catatan pasen merupakan suatu dokumen yang legal, dari status sehat sakit pasen pada saat lampau, sekarang, dalam bentuk tulisan, yang
menggambarkan asuhan keperawatan/
kebidanan yang diberikan. Umumnya catatan pasien berisi imformasi yang mengidentifikasi masalah, diagnosa
keperawatan dan medik, respons pasen terhadap asuhan kerawatan/kebidanan yang
diberikan dan respons terhadap
pengobatan serta berisi beberapa rencana untuk intervensi lebih lanjutan.
Keberadaan dokumentasi baik berbentuk catatan maupun laporan akan sangat membantu
komunikasi antara sesama perawat/ bidan
maupun disiplin ilmu lain dalam rencana
pengobatan.

 

Katagori
informasi yang biasanya masuk dalam status (chart)
pasien adalah :

· Data demografik

· Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik

· Formulir persetujuan

· Diagnosa

· Pengobatan

· Catatan perkembangan /kemajuan

· Catatan secara berkesinambungan (flow sheet)

· Catatan perawat

· Keberadaan dokumentasi baik berbentuk catatan maupun laporan akan sangat membantu dalam berkomunikasi baik antara sesama perawat/bidan maupun lembaran
tindakan (treatment) 

· Catatan laboratorium

· Laporan rontgen ( X – ray )

· Ringkasan pasen pulang

 

 

 

TUJUAN DOKUMENTASI

 

 

1. Sebagai Sarana Komunikasi

Dokumentasi yang dikomunikasikan secara akurat dan lengkap dapat berguna
untuk:

a. Membantu koordinasi asuhan
keperawatan/kebidanan yang diberikan oleh tim kesehatan.

b. Mencegah informasi yang berulang
terhadap pasien atau anggota tim kesehatan atau mencegah tumpang tindih, bahkan
sama sekali tidak dilakukan untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan
ketelitian dalam memberikan asuhan keperawatan/kebidanan pada pasien.

c. Membantu tim perawat/bidan dalam menggunakan waktu sebaik-baiknya.

 

2. Sebagai Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat

Sebagai upaya untuk melindungi pasen terhadap kualitas pelayanan
keperawatan yang diterima dan perlindungan terhadap keamanan perawat dalam
melaksanakan tugasnya, maka perawat/bidan diharuskan mencatat segala tindakan
yang dilakukan terhadap pasen. Hal ini penting berkaitan dengan langkah
antisipasi terhadap ketidakpuasan pasen terhadap pelayanan yang diberikan dan
kaitannya dengan aspek hukum yang dapat dijadikan settle concern, artinya
dokumentasi dapat digunakan untuk menjawab ketidakpuasan terhadap pelayanan
yang diterima secara hukum.

 

3. Sebagai Informasi statistik

Data statistik dari dokumentasi keperawatan/kebidanan dapat membantu
merencanakan kebutuhan di masa mendatang, baik SDM, sarana, prasarana dan
teknis. 

 

4. Sebagai Sarana Pendidikan

Dokumentasi asuhan keperawatan/kebidanan yang dilaksanakan secara baik
dan benar akan membantu para siswa keperawatan/kebidanan maupun siswa kesehatan
lainnya dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan pengetahuan dan
membandingkannya, baik teori maupun praktek lapangan.

 

 

  

5. Sebagai Sumber Data Penelitian

Informasi yang ditulis dalam dokumentasi
dapat digunakan sebagai sumber data penelitian. Hal ini erat kaitannya dengan
yang dilakukan terhadap asuhan keperawatan/kebidanan yang diberikan, sehingga
melalui penelitian dapat diciptakan satu bentuk pelayanan keperawatan dan
kebidanan yang aman, efektif dan etis.

 

6. Sebagai Jaminan Kualitas Pelayanan Kesehatan

Melalui dokumentasi yang dilakukan dengan baik dan benar, diharapkan
asuhan keperawatan/kebidanan yang berkualitas dapat dicapai, karena jaminan
kualitas merupakan bagian dari program pengembangan pelayanan kesehatan. Suatu
perbaikan tidak dapat diwujudkan tanpa dokumentasi yang kontinu, akurat dan
rutin baik yang dilakukan oleh perawat/bidan maupun tenaga kesehatan lainnya.
Audit jaminan kualitas membantu untuk menetapkan suatu akreditasi pelayanan
keperawatan/kebidanan dalam mencapai standar yang telah ditetapkan.

 

7. Sebagai Sumber Data Perencanaan Asuhan Keperawatan /kebidanan
Berkelanjutan

Dengan dokumentasi akan
didapatkan data yang aktual dan konsisten mencakup seluruh kegiatan keperawatan
yang dilakukan melalui tahapan kegiatan proses keperawatan.

 

 

PRINSIP-PRINSIP PENCATATAN / DOKUMENTASI

 

Prinsip pencatatan
ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi isi maupun teknik pencatatan.

 

A. ISI PENCATATAN

1. Mengandung Nilai Administratif

Misalnya rangkaian pendokumentasian kegiatan pelayanan keperawatan
merupakan alat pembelaan yang sah manakala terjadi gugatan.

2. Mengandung Nilai Hukum

Misalnya catatan medis kesehatan keperawatan/kebidanan dapat dijadikan
sebagai pegangan hukum bagi rumah sakit, petugas kesehaan, maupun pasien.

3. Mengandung Nilai Keuangan

Kegiatan pelayanan medis keperawatan/kebidanan akan menggambarkan tinggi
rendahnya biaya perawatan yang merupakan
sumber perencanaan keuangan rumah sakit.

4. Mengandung Nilai Riset

Pencatatan mengandung data, atau informasi, atau bahan yang dapat
digunakan sebagai objek penelitian, karena dokumentasi merupakan informasi yang
terjadi di masa lalu.

5. Mengandung Nilai Edukasi

Pencatatan medis keperawatan/kebidanan dapat digunakan sebagai referensi
atau bahan pengajaran di bidang profesi si pemakai.

 

B. TEKNIK PENCATATAN

1. Menulis nama pasen pada setiap halaman catatan perawat/bidan

2. Mudah dibaca, sebaiknya menggunakan tinta warna biru atau hitam

3. Akurat, menulis catatan selalu dimulai dengan menulis tanggal, waktu dan
dapat dipercaya secara faktual

4. Ringkas, singkatan yang biasa
digunakan dan dapat diterima, dapat dipakai.

 Contoh : Kg untuk Kilogram

5. Pencatatan mencakup keadaan
sekarang dan waktu lampau

6. Jika terjadi kesalahan pada saat
pencatatan, coret satu kali kemudian tulis kata “salah” diatasnya serta paraf
dengan jelas. Dilanjutkan dengan informasi yang benar “jangan dihapus”.
Validitas pencatatan akan rusak jika ada penghapusan.

7. Tulis nama jelas pada setiap hal
yang telah dilakukan dan bubuhi tanda tangan

8. Jika pencatatan bersambung pada
halaman baru, tandatangani dan tulis kembali waktu dan tanggal pada bagian
halaman tersebut.

 

C. JENIS-JENIS PENCATATAN

 

Ada dua jenis pencatatan :

1. Catatan Pasen secara Tradisional

Catatan pasen secara tradisional merupakan catatan yang berorientasi pada
sumber dimana setiap sumber mempunyai catatan sendiri. Sumber bisa didapat dari
perawat, dokter, atau tim kesehatan lainnya. Catatan perawat terpisah dari
catatan dokter dan catatan perkembangan. Biasanya catatan ditulis dalam bentuk
naratif. Sistem dokumentasi yang berorientasi pada sumber yang ditulis secara
terpisah-pisah sulit menghubungkan keadaan yang benar sesuai perkembangan
pasien. Catatan tradisional umumnya mempunyai enam bagian, yaitu : catatan
khusus, lembar catatan dokter, lembar riwayat medik, lembar identitas, catatan
keperawatan, dan laporan khusus lainnya.

 

2. Catatan Berorientasi pada Masalah

Pencatatan yang berorientasi pada masalah
berfokus pada masalah yang sedang dialami pasen. Sistem ini pertama kali
diperkenalkan oleh dr. Lawrence Weed dari USA, dimana dikembangkan satu sistem
pencatatan dan pelaporan dengan penekanan pada pasien tentang segala
permasalahannya.
Secara menyeluruh sistem ini dikenal dengan nama “Problem Oriented Method”.

Problem Oriented Method (POR) merupakan suatu alat yang efektif untuk
membantu tim kesehatan mengidentifikasi masalah-masalah pasen, merencanakan
terapi, diagnosa, penyuluhan, serta mengevaluasi dan mengkaji perkembangan
pasen. POR adalah suatu konsep, maka disarankan untuk membuat suatu format yang
baku. Tiap pelayanan dapat menerapkan konsep ini dan menyesuaikan dengan
kebutuhan dan kondisi setempat.

 

Komponen dasar POR terdiri dari empat bagian,
yaitu :

a. Data Dasar; identitas, keluhan
utama, riwayat penyakit sekarang dan sebelumnya. Riwayat kesehatan keluarga,
pemeriksaan fisik, laboratorium, dan lain-lain, data dasar diperlukan
tergantung dari unit atau jenis asuhan yang akan diberikan, misalnya: data
dasar unit kebidanan akan berbeda dengan unit bedah.

b. Daftar Masalah; masalah pasien didapat dari hasil kajian. Pencatatan dasar masalah
dapat berupa gejala-gejala, kumpulan gejala, atau hasil laboratorium yang
abnormal, masalah psikologis, atau masalah sosial. Masalah yang ada mungkin
banyak sehingga perlu diatur menurut prioritas masalah dengan memberi nomor,
tanggal pencatatan, serta menyebutkan masalahnya.
Daftar memberikan
keuntungan bagi perawat sebagai perencana keperawatan.

c. Rencana.
Rencana disesuaikan dengan tiap masalah yang ada. Dengan demikian perawat dapat
merencanakan sesuai kebutuhan pasen.

d. Catatan Perkembangan Pasen. Adalah semua catatan
yang berhubungan dengan keadaan pasen selama dalam perawatan.
Pada umumnya catatan ini terdiri dari beberapa macam bentuk, antara lain
:  

 
 

§ Catatan Berkesinambungan (Flow Sheet)Digunakan untuk mencatat hasil observasi perawatan
  secara umum, khususnya pada keadaan pasen yang sering berubah-ubah dengan
  cepat.

 

§ Catatan secara Naratif (Notes)

 

§ Catatan akan Pulang/Sembuh (Discharge Notes)

 

Dokter
  maupun perawat membuat kesimpulan tentang keadaan pasen selama dirawat, baik
  mengenai permasalahan dan tindak lanjut yang dibutuhkan

 

 

CATATAN PERKEMBANGAN PASEN (SUSUNAN PENCATATAN)

 

Ada beberapa bentuk format dokumentasi yang dapat digunakan perawat untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah pasen antara lain, :

 

1. S O
A P

Format SOAP umumnya
digunakan untuk pengkajian awal pasen.

S : Subjective à Pernyataan atau keluhan dari pasen

O : Objective à Data yang diobservasi oleh perawat atau keluarga.

A : Analisys  à Kesimpulan dari objektif dan subjektif

P : Planning  à Rencana tindakan yang akan dilakuakan
berdasarkan analisis

 

Contoh S O A P : 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   
 

TGL.

 

 

WAKTU

 

 

MASALAH

 

 

S
  . O . A . P

 

 

30/6/01 

 

 

Jam 14.00 

 

 

Integritas kulit

 

 

S : pasien mengeluh rasa nyeri sekitar luka ketika dipalpasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

O : pada balutan luka terlihat
  warna jambu dan tidak berbau

 

 

A : luka memperlihatkan tanda awal dari

 

 penyembuhan

 

 

 P : teruskan perawatan luka. 

 

 

   

 


 
   
   

   

 

   
   

Tanda tangan :
    Zr Aminah

   

 

   

   

 

 

 

2. S O A P I E R

Format SOAPIER lebih tepat digunakan
apabila rencana pasien ada yang akan dirubah dan proses evaluasi mulai
dilakukan.

 

S :
Subjective 
à Pernyataan atau keluhan pasien

O :
Objective 
à Data yang diobservasi

A :
Analisis 
à Kesimpulan berdasarkan data objektif dan subjektif

P :
Planning 
à Apa yang dilakukan terhadap masalah

I :
Implementation 
à
Bagaimana dilakukan

E :
Evaluation 
à Respons pasen terhadap tindakan keperawatan

R : Revised à Apakah rencana keperawatan akan dirubah

 

 

CONTOH S O A P I E R

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           
 

TGL. 

 

 

WAKTU

 

 

 MASALAH

 

 

S . O . A . P . I . E . R

 

 

30/6/01

 

 

 

 

 

 

17.00

 

 

Luka Infeksi

 

 

 

 

S : Pasien mengeluh nyeri
  sekitar luka ketika dipalpasi

 

 

O :
  Pada balutan luka terlihat ada nanah dan berbau

 

 

A : Terjadi
  infeksi pada luka

 

 

P : Teruskan perawatan luka

 

 

I : Basahi luka dengan NaCl 0,9% sesuai instruksi

 

 

E : Luka masih bernanah

 

 

R : Ganti balutan menjadi 2 kali/hari

 

 

3. D . A . R.

Format dokumentasi D. A. R membantu perawat untuk mengatur
pemikirannya dan memberikan struktur yang dapat meningkatkan pemecahan masalah
yang kreatif. Komunikasi yang terstruktur akan mempermudah konsistensi
penyelesaian masalah di antara tim kesehatan.

D :
Data. Data objektif dan
subjektif yang mendukung masalah

A :
Action. Tindakan yang segera
harus dilakukan untuk mengatasi 

 masalah

R :
Respons. Respons pasen terhadap
tindakan perawat sekaligus melihat

 tindakan
yang telah dilakukan berhasil/tidak

 

CONTOH  D . A
. R

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TGL.

 

 

WAKTU

 

 

MASALAH

 

 
D . A . R

 

 

 

 

3/2/99

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21.00 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

23.00 

 

 

 

 

Nyeri/Pain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Potensial
  Infeksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peningkatan
  Suhu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D : Pasien menangis ketika mau b.a k.

 

 karena
  merasa panas dan nyeri

 

 

 

A : Diberikan Pyiridium 200 mg sesuai 

 

 instruksi
  dokter

 

 

 

R : Pasen
  masih 

 

 kesakitan

 

 

 

D : Penting, pasien, malam hari, b.a.k (6 

 

 kali, warna kuning butek

 

 

 

A : Urin kultur, awasi tanda vital, 

 

 banyak minum, bed rest

 

 

 

D : Suhu 39,5 0C

 

 

 

A : Oral antipiretik sesuai instruksi

 

 

 

R : Tidak ada rasa sakit, b a k (1 kali), suhu 39,3 0C

 

  Tanda
tangan ———Zr. Ana.

 

PENUGASAN

 

Kasus :

Tuan A, laki-laki, 24 tahun, belum
bekerja, datang berobat ke puskesmas Grabag diantar oleh keluarganya dengan
kondisi fisik lemah dan kurus, bibir kering dan apatis. Menurut keluarga pasen
sudah terbaring di tempat tidur selama 8 hari dengan suhu badan naik turun,
malam panas dan pagi agak panas, nafsu makan menurun, makan hanya 3-4 sendok,
rasa mual-mual (+), constipasi selama 3 hari.

Tugas :

1. Buatlah pencatatan/dokumentasi asuhan keperawatan pasen
diatas dengan menggunakan SOAP, SOAPIER dan DAR

2. Menurut pendapat anda, dari ketiga metoda pencatatan
diatas, pilih mana yang lebih mudah dan efektif untuk diterapkan ditempat
saudara bekerja.

 

KESIMPULAN

 

Keperawatan dan Kebidanan di Indonesia sebagai suatu
profesi yang sedang dalam proses memperjuangkan penerimaan profesi yang mandiri oleh
masyarakat membutuhkan upaya aktualisasi diri dalam memberikan pelayanan profesional. Semua ini dapat dicapai apabila perawat/bidan mampu menunjukan kemampuannya baik dalam
bidang pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang didasari oleh
ilmu yang jelas, serta mendokumentasikan semua hasil kerja yang telah dilaksanakan secara baik dan benar. Akhirnya dokumentasi
dapat meningkatkan kesinambungan
perawatan pasen, dan menguatkan akontabilitas, dan tanggungjawab perawat/bidan dalam mengimpelemen-tasikan, dan
mengevaluasi pelayanan yang diberikan serta membantu institusi untuk memenuhi syarat akreditasi
dan hukum.

 

EVALUASI

 

1. Sebutkan pengertian
“dokumentasi”

2. Sebutkan tujuan dokumentasi.

3. Sebutkan prinsip-prinsip dalam
pencatatan/dokumentasi

4. Sebutkan satu atau dua
pencatatan yang dilakukan di tempat tugas anda masing-masing.

5. Sebutkan manfaat dari sistem pencatatan dengan
menggunakan metode SOAP dan DAR.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Doenges,
E & Burley. T.J.

(1995) Aplication of Nursing Process
and Nrusing Diagnosis.

Pennsylvania
USA.

 

Eggland, E., Th, (1994) Nursing Documentation; Charting, Recording, Reporting,

J.B.
Lipppincot Company.

 

 

 

 


CATATAN KEBIDANAN :

 

 

Nama :

Usia :

Alamat :

Job :

No.
Telephone :

 

Suami :

Pekerjaan :

No.Telephone :

 

Dokter :

No.Telephone :

 

 

CATATAN ANTENATAL :

 

Gravida Paritas

 

HPHT 

Siklus
Haid

 

Lama
Haid  Jumlah
Darah

 

Pernah
Pendarahan ?

 

Taksiran
Partus

 

Blood
class Rh 

Rubella

Berat
Badan 

Berat
Badan Sewaktu Dating

 

Berat
Badan Sebelum Hamil

 

Perawatan
Gigi

 

Merokok/Tidak Berapa
banyak  

 

Alkohol

 

Diet

 

Exercise

 

 

 

RIWAYAT
KEHAMILAN YANG LALU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tempat

 

Lahir

 

 

Umur

 

Kehamilan

 

 

Kelahiran

 

 

Jenis

 

Kelamin

 

 

Berat

 

Badan

 

 

Keterangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL PEMERIKSAAN DARAH

 

Hb Antibodi  AFP  TPHA  Lain-lain

 

 

 

RIWAYAT
PENYAKIT

 

 Patient Pasangan

 

Hypertensi 

Thromboembolism 

Jantung 

Ginjal 

Cystitis 

Herpes
genetal 

Thrush 

PMS 

Diabetes 

Gangguan
Pernafasan 

TBC 

Epilepsi 

Migraine 

Kelainan
Jiwa 

Hepatitis 

Rubella 

Thypoid 

Allergi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Ya/Tidak Tanggal Tempat

 

Operasi :

Transfusi
Darah :

Masalah
Medis Lain :

Masalah
Kehamilan saat ini :

Breastfeeding :

Pemeriksaan
Nipples  :

 

Kehamilan Sekarang 
:

 

Tanggal
Kehamilan, Fundus pre/pos, Bjj, Tekanan darah, Taksiran Partus Urine

         
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar:

 

 

 

 

 

LAPORAN
PERSALINAN

 

 

Tanggal/Waktu
dipanggil Waktu
Datang  .

 

Riwayat
_________________________________________________________________ 

 

Suhu   Pols/Nadi   Tekanan Darah ____________________  

 

Pemeriksaan
Awal _________________________________________________________

 

Perut
___________________________________________________________________

 

Vagina
__________________________________________________________________

 

Rencana
Kegiatan _________________________________________________________

 

Kemajuan
Persalinan _______________________________________________________

 

 

 

 

 

 

 

RINGKASAN
LAPORAN KEHAMILAN

 

Type
Persalinan :

 

Presentasi
pada waktu persalinan :

 

Selaput
ketuban pecah spontan/dipecahkan  :

 

 

 

 Awal Akhir Jumlah

 

Kala
I :

Kala
II :

Kala III :

Kala IV : 

 

Jumlah :

Tanggal/Waktu :

 

Obat yang diberikan :

 

 

 

Plasenta dan Selaput :

Lengkap / Tidak Lengkap/ ragu-ragu :

Jumlah pembuluh darah pada tali pusat :

Pengambilan darah dari tali pusat :

 

Jumlah
total perdarahan  :

 

 

Perineum :

Utuh/robek
/ episiotomi  :

Jahitan
/tidak :

 

 

Observasi sesudah persalinan :

 

Suhu  :

Nadi  :

Tekanan darah  :

Fundus uteri :

Lochia :   

Pengeluaran urine :

Bayi : 

 

 

 

Tanggal
dan waktu lahir :

 

Jenis kelamin  : 

Berat badan  :

Lingkaran kepala :

Resusitasi :

Apgar :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aspek yang dinilai

 

 

0

 

 

1

 

 

2

 

 

1 min

 

 

5 min

 

 

Detik
  jantung

 

 

Tidak
  ada

 

 

<
  100

 

 

<100

 

 

 

 

 

 

 

 

Pernapasan
 

 

 

Tidak
  ada

 

 

Pelan/lemah

 

 

menangis

 

 

 

 

 

 

 

 

Kekuatan
  otot

 

 

Lemah

 

 

sedang

 

 

kuat

 

 

 

 

 

 

 

 

Reflek

 

 

Tidak
  ada

 

 

sedang

 

 

kuat

 

 

 

 

 

 

 

 

Warna
  kulit

 

 

Pucat

 

 

Biru/pink

 

 

Pink

 

 

 

 

 

 

 

 

Total

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Abnormalitas :

 

 

 

 

Observasi setelah lahir

 

Suhu warna kulit

 

BAB Bak

 

ASI Formula

 

 

 

Catatan
Kelahiran :

 

H2MOP

March 13th, 2007 by waro-an

Hati-hati Minum Obat Pilek (updated)

      

 
   

 

 

   

       HATI-HATI MINUM OBAT PILEKdr. Iwan Darmansjah, SpFK   
Suatu penelitian retrospektif yang dilaporkan di New England Journal of
Medicine (NEJM) baru saja diumumkan lewat internet mendahului publikasi
resmi. Sudah tentu karena makalah berjudul “Phenylpropanolamine and the
Risk of Hemorrhagic Stroke” itu dianggap penting untuk segera
disebarluaskan.
Fenilpropanolamin (FPA) memang banyak dipakai dalam obat pilek dan
penghilang nafsu makan, meski sejak 20 tahun silam dilaporkan adanya
kasus perdarahan di selaput otak atau di dalam otak setelah makan FPA.
Ia merupakan salah satu komponen simpatomimetika (berefek serupa
perangsangan saraf simpatik) yang digunakan dalam obat pilek. Menurut
urutan efektivitasnya, komponen sejenis dalam obat pilek adalah
efedrin, pseudoefedrin, FPA, dan etilefrin. Obat pilek berbahan
komponen tersebut bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah di selaput
lendir hidung, sehingga pembentukan lendir berkurang. Di samping itu
masih ada golongan antihistamin yang mempunyai efek lemah untuk
membantu meringankan gejala melalui efek antialergi, yang sering
menyertai pilek Biasanya dua komponen ini dicampur dalam obat pilek.
Komponen lain, jika ada, merupakan tambahan yang berlebihan, kecuali
bila obat tersebut memang diindikasikan pula untuk gejala lain,
misalkan demam, sehingga ditambahkan analgetik seperti parasetamol.
Sebenarnya, kalau hanya untuk pilek, dosis FPA cukup 12,5 - 25 mg per
tablet, per kali. Sayangnya, FPA banyak disalahgunakan untuk
menguruskan badan. Sedangkan untuk mengurangi nafsu makan dibutuhkan
dosis sebesar 75 mg atau lebih. Padahal justru pemakaian dosis besar
telah dihubungkan dengan kejadian stroke hemoragik (berdarah), terutama
pada wanita (umumnya wanita muda yang ingin kurus). Risiko kejadian
pada wanita ini mencapai 16.58 kali lebih sering dibandingkan dengan
kejadian stroke hemoragik pada orang yang tidak makan FPA. Sudah tentu
risiko ini sangat tinggi, malahan lebih besar ketimbang risiko kejadian
kanker paru-paru oleh rokok (+ 11.0). Karena pria jarang makan FPA
untuk menguruskan diri, mungkin inilah penyebabnya angka risiko untuk
wanita lebih besar dibandingkan dengan pria. FPA sudah lama saya kenal
sebagai obat pilek yang kurang baik, bukan saja karena efektivitasnya
lebih rendah, tetapi juga karena ia dapat meninggikan tekanan darah
bila dipakai pada dosis 25 mg atau lebih. Di negeri kita, sekitar 10
tahun lalu, karena masalah efek sampingnya sudah dikenal bahkan waktu
itu (hanya buktinya kurang solid)

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Depkes RI,
memberlakukan pembatasan dosis FPA dalam obat pilek hingga 15 mg per
tablet. Namun, entah mengapa banyak pabrik kemudian mendapat izin
menggunakan FPA dalam dosis 25 mg. Padahal, bukankah hal ini dapat
menambah risiko perdarahan di otak ? Itu sebabnya saya sangat setuju
bila sebagai obat obesitas FPA sebaiknya dilarang, sedangkan sebagai
obat pilek dibatasi dosisnya. Sementara itu etilefrin sifatnya juga
seperti FPA dan kurang baik untuk pilek, sehingga perlu pengaturan baru
oleh Ditjen POM. Tinggal efedrin dan pseudoefedrin yang cocok untuk
obat pilek, karena dalam dosis kecil pun efektif, juga tidak menaikkan
tekanan darah atau denyut jantung secara signifikan. Di antara kedua
jenis komponen ini, sebenarnya efedrinlah yang lebih baik. Sayang
sekali industri obat cenderung tidak menggunakannya, meski
efektivitasnya unggul, semata-mata karena margin keuntungannya lebih
rendah (fakta ini telah saya konfirmasikan dengan produsen obat pilek
terbesar di AS, yang juga menggunakan FPA, dan diiyakan). Betapa pun,
baik efedrin maupun pseudoefedrin dalam obat flu perlu dibatasi
dosisnya.
Kini bagaimana kita sebagai konsumen mesti bersikap ? Saya kira ya
jelas, pilihlah yang mengandung efedrin atau pseudoefedrin saja, dengan
dosis kecil. Bila masih mau pakai FPA, ya juga dosisnya tidak lebih
dari 15 mg/tablet saja, dan tentu jangan makan dua tablet sekaligus.
Obat menguruskan badan janganlah dimakan sendiri tanpa petunjuk dokter.
TAMBAHAN: Obat pilek untuk bayi dan anak terlupakan untuk diatur,
rupanya ini juga mengandung FPA terlalu tinggi, malahan ada juga yang
mengandung phenylephrine, yang efek sampingnya banyak.

INTISARI,2001(updated Sep 2005)
      

Astaghfirullah

March 13th, 2007 by waro-an

Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah dan mohon maaf dari dosa supaya terbebas dari siksaan baik dengan cara tidak dicela maupun disiksa secara langsun, atau setelah adanya pengakuan antara seorang hamba dengan tuhannya.
Meminta ampunan terkadang dilakukan dengan ucapan dan perbuatan, maka yang dimaksut ampunan adalah perlindungan dari keburukan dosa. Diantara ulama ada yang mengatakan bahwa istighfar itu berasal dari kata "Ghofur" yang artinya penutup (al satru), dan katanya lagik mengapa dikatakan al maghfirah dan al ghofar, karena di dalamnya terkandung makna menutupi.
4ij berfirman :
"Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya 4ij maha pengampun lagi maha penyayang" (QS. Ath-Thaghabun)

Arti kata "Taghfiru"–mengampuni mereka dalam ayat ini adalah kamu menutupi aib-aib mereka dan memberikan kemudahan kepada mereka untuk beralasan
seorang hamba selalu ada diantara dua sisi kondisi yaitu mendapat nikmat Allah yang harus disyukuri dan melakukan dosa yang harus di taubati. salah satu bentuk manifestasi permohonan ampunan atas segala dosa yang telah kita lakukan adalah dengan beristighfaar.
Kalimat pujian yang paling indah adalah Laa Illaaha illallah (Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah), dan do’a yaqng paling indah adalah ASTAGHFIRLAAH. khususnya, karena dalam istighfar terkandung pengakuan dosa seorang hamba kepada tuhannya ataupun pengakuan atas segala kekurangan.
"Dan 4ij sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada diantara mereka dan tidaklah (pula) 4ij akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampunan" (QS. Al-Anfal)

BELUM terlambat buat kita
mari kita penuhi hidup dengan
Dzikirullah dan ASTAGHFIRLAH

obat bebas: pengetahuan dasar

March 13th, 2007 by waro-an

Obat bebas : pengetahuan dasar

OTC
adalah singkatan dari Over-The-Counter, merupakan obat yang dapat
dibeli tanpa resep dokter -kita menyebutnya obat bebas. Bisa dipastikan
hampir setiap orang pernah mengonsumsi obat bebas ini. Ada 4 golongan
obat bebas yang paling populer, yaitu pereda rasa sakit, penenang
(antihistamin), ‘obat’ pilek (dekongestan), dan ‘obat’ batuk.
*Ngomongs, kenapa saya gunakan ‘()’? Karena sebenarnya tablet, pil,
atau kaplet tersebut bukanlah untuk mengobati penyakit, tetapi hanya
meredakan gejala. Ini akan dibahas belakangan*

Pereda rasa sakit/pain relievers

Pereda rasa sakit ini ada 2 jenis, yaitu obat
anti-peradangan non-steroid (nama bekennya di dunia per-obat-an adalah
NSAIDs/nonsteroidal anti-inflammatory drugs) dan parasetamol alias
asetaminofen. Perbedaan ini didasarkan pada cara kerjanya. NSAID
bekerja dengan menghentikan pengeluaran prostaglandin, senyawa pemicu
rangsangan pada ujung syaraf kulit, otot, dan persendian yang
menimbulkan sensasi sakit. Contoh NSAID yang paling populer yaitu
aspirin dan ibuprofen. Umumnya NSAID memiliki efek samping yang lebih
berat daripada parasetamol. Parasetamol bekerja dengan memblokir
sensasi sakit pada otak dan tulang belakang. Pereda rasa sakit yang
mana yang anda pilih?

Antihistamin

Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor
syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin,
dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine.
Yang paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan
klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat).

Dekongestan

Dekongestan bekerja dengan mempersempit pembuluh
darah di hidung, sehingga menghambat aliran darah dan menciutkan
pembengkakan jaringan di dalam hidung. Satu-satunya dekongestan yang
digunakan dalam obat bebas adalah pseudoefedrin, yang sayangnya
baru-baru ini penggunaannya diawasi lebih ketat (dengan kata lain
batasan dosis maksimumnya diperkecil) akibat efek samping yang besar
dan efektivitasnya yang rendah. Sedangkan senyawa yang efek sampingnya
kecil dan lebih efektif justru tidak populer di kalangan produsen
dekongestan karena margin keuntungan yang dapat diperoleh lebih kecil
(baca artikel tentang pseudoefedrin di website prof. Iwan Darmansjah). *Jadi ingat iklan I*za yang dengan ‘bangga’ mengatakan "Dengan pseudoefedrin!" emoticon

‘Obat’ batuk

‘Obat’ batuk digolongkan menjadi dua; antitusif dan ekspektoran (kali ini iklan tidak menipu emoticon ). Antitusif bekerja dengan menekan refleks batuk, contohnya Dextromethorphan.
Sedangkan ekspektoran -mungkin- bekerja dengan mengencerkan lendir
sehingga lebih mudah dikeluarkan pada saat batuk (artinya, anda tetap
harus batuk untuk mengeluarkan lendir ini emoticon ), contohnya Guaifenesin.

Nah, saatnya kita menuju ke kenyataan yang tidak kalah pentingnya. TIDAK ADA OBAT UNTUK SELESMA (common cold)! *kalau anda belum tahu beda antara selesma dan flu, coba ikut kuis di mayoclinic dulu* Obat-obat bebas populer yang jenisnya baru saya bahas tadi hanya dapat meringankan gejala sampai tubuh anda dapat melawan virus yang menyerang, dan tidak membuat selesma anda sembuh total. Yang wajib anda ingat adalah selalu perhatikan kandungan aktif dan non-aktif obat beserta efek samping dan kontra indikasinya.
Jangan sampai keadaan menjadi lebih buruk hanya karena lambung anda
sedang sakit dan anda minum obat yang dapat mengiritasi lambung! emoticon

Artikel ini adalah terjemahan bebas dari Types of OTC Medicines and How They Work dengan penyesuaian menurut ketersediaan obat (sepengetahuan penulis) di pasaran.

Tulisan ini akan bersambung menjadi beberapa artikel yang tersimpan di kategori Sehat.

Presur ulcer (Luka Tekan)

January 16th, 2007 by waro-an

LUKA TEKAN (PRESSURE ULCER) : PENYEBAB DAN PENCEGAHAN

diambil dari artikel
Yunita Sari
Jenderal Soedirman University, Purwokerto
Gerontological Nursing/Wound Care Management Department
The University of Tokyo, Japan
E-mail : yunitasari_gmu@yahoo.com

Luka tekan (pressure ulcer) atau dekubitus merupakan masalah serius yang sering tejadi pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas, seperti pasien stroke, injuri tulang belakang atau penyakit degeneratif. Istilah dekubitus sebenarnya kurang tepat dipakai untuk menggambarkan luka tekan karena asal kata dekubitus adalah de*****bere yang artinya berbaring[13]. Ini diartikan bahwa luka tekan hanya berkembang pada pasien yang dalam keadaan berbaring. Padahal sebenarnya luka tekan tidak hanya berkembang pada pasien yang berbaring, tapi juga dapat terjadi pada pasien yang menggunakan kursi roda atau prostesi[19]. Oleh karena itu istilah dekubitus sekarang ini jarang digunakan di literatur literatur untuk menggambarkan istilah luka tekan.

Adanya luka tekan yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan masa perawatan pasien menjadi panjang dan peningkatan biaya rumah sakit. Oleh karena itu perawat perlu memahami secara komprehensif tentang luka tekan agar dapat memberikan pencegahan dan intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien yang beresiko terkena luka tekan.

Fisiologi dekubitus

Luka tekan adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang disebabkan karena adanya kompressi jaringan yang lunak diatas tulang yang menonjol (bony prominence) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu yang lama. Kompressi jaringan akan menyebabkan gangguan pada suplai darah pada daerah yang tertekan. Apabila ini berlangsung lama, hal ini dapat menyebabkan insufisiensi aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel [19].

Daerah daerah yang paling sering terjadi luka tekan tergantung kepada area yang sering mengalami tekanan, yaitu :

a. Pada posisi terlentang yaitu daerah belakang kepala, sakrum dan tumit
b. Pada posisi duduk yaitu daerah ischium, atau koksik.
c. Posisi lateral yaitu pada daerah trochanter.

Faktor resiko

Braden dan Bergstrom (2000) mengembangkan sebuah skema untuk menggambarkan faktor - faktor resiko untuk terjadinya luka tekan.

Ada dua hal utama yang berhubungan dengan resiko terjadinya luka tekan, yaitu faktor tekanan dan toleransi jaringan. Faktor yang mempengaruhi durasi dan intensitas tekanan diatas tulang yang menonjol adalah imobilitas, inakitifitas, dan penurunan sensori persepsi. Sedangkan faktor yang mempengaruhi toleransi jaringan dibedakan menjadi dua yaitu faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor yang berasal dari pasien. sedangkan yang dimaksud dengan faktor ekstrinsik yaitu faktor - faktor dari luar yang mempunyai efek deteriorasi pada lapisan eksternal dari kulit.

Di bawah ini adalah penjelasan dari masing masing faktor diatas :

1. Mobilitas dan aktivitas

Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi tubuh, sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah. Pasien yang berbaring terus menerus ditempat tidur tanpa mampu untuk merubah posisi beresiko tinggi untuk terkena luka tekan. Imobilitas adalah faktor yang paling signifikan dalam kejadian luka tekan[6][16]. Penelitian yang dilakukan Suriadi (2003) di salah satu rumah sakit di Pontianak juga menunjukan bahwa mobilitas merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan.

2. Penurunan sensori persepsi

Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami penurunan untuk merasakan sensari nyeri akibat tekanan diatas tulang yang menonjol. Bila ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien akan mudah terkena luka tekan [16].

3. Kelembapan

Kelembapan yang disebabkan karena inkontinensia dapat mengakibatkan terjadinya maserasi pada jaringan kulit. Jaringan yang mengalami maserasi akan mudah mengalami erosi[18]. Selain itu kelembapan juga mengakibatkan kulit mudah terkena pergesekan (friction) dan perobekan jaringan (shear). Inkontinensia alvi lebih signifikan dalam perkembangan luka tekan daripada inkontinensia urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses dapat merusak permukaan kulit.

4. Tenaga yang merobek ( shear )

Merupakan kekuatan mekanis yang meregangkan dan merobek jaringan, pembuluh darah serta struktur jaringan yang lebih dalam yang berdekatan dengan tulang yang menonjol. Contoh yang paling sering dari tenaga yang merobek ini adalah ketika pasien diposisikan dalam posisi semi fowler yang melebihi 30 derajad[18]. Pada posisi ini pasien bisa merosot kebawah, sehingga mengakibatkan tulangnya bergerak kebawah namun kulitnya masih tertinggal. Ini dapat mengakibatkan oklusi dari pembuluh darah, serta kerusakan pada jaringan bagian dalam seperti otot, namun hanya menimbulkan sedikit kerusakan pada permukaan kulit[19].

5. Pergesekan ( friction)

Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang berlawanan. Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan merusak permukaan epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada saat penggantian sprei pasien yang tidak berhati-hati[19].

6. Nutrisi

Hipoalbuminemia, kehilangan berat badan, dan malnutrisi umumnya diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk terjadinya luka tekan[8]. Menurut penelitian Guenter (2000) stadium tiga dan empat dari luka tekan pada orangtua berhubungan dengan penurunan berat badan, rendahnya kadar albumin, dan intake makanan yang tidak mencukupi.

7. Usia

Pasien yang sudah tua memiliki resiko yang tinggi untuk terkena luka tekan karena kulit dan jaringan akan berubah seiring dengan penuaan. Penuaan mengakibatkan kehilangan otot, penurunan kadar serum albumin, penurunan respon inflamatori, penurunan elastisitas kulit, serta penurunan kohesi antara epidermis dan dermis[18]. Perubahan ini berkombinasi dengan faktor penuaan lain akan membuat kulit menjadi berkurang toleransinya terhadap tekanan, pergesekan, dan tenaga yang merobek.

8. Tekanan arteriolar yang rendah

Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit terhadap tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah sudah mampu mengakibatkan jaringan menjadi iskemia. Studi yang dilakukan oleh Nancy Bergstrom ( 1992) menemukan bahwa tekanan sistolik dan tekanan diastolik yang rendah berkontribusi pada perkembangan luka tekan.

9. Stress emosional

Depresi dan stress emosional kronik misalnya pada pasien psikiatrik juga merupakan faktor resiko untuk perkembangan dari luka tekan[18].

10. Merokok

Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan memiliki efek toksik terhadap endotelium pembuluh darah. Menurut hasil penelitian Suriadi (2002) ada hubungaan yang signifikan antara merokok dengan perkembangan terhadap luka tekan.

11. Temperatur kulit

Menurut hasil penelitian Sugama (1992) peningkatan temperatur merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya luka tekan.

Menurut hasil penelitian, faktor penting lainnya yang juga berpengaruh terhadap risiko terjadinya luka tekan adalah tekanan antar muka ( interface pressure). Tekanan antar muka adalah kekuatan per unit area antara tubuh dengan permukaan matras[19]. Apabila tekanan antar muka lebih besar daripada tekanan kapiler rata rata, maka pembuluh darah kapiler akan mudah kolap, daerah tersebut menjadi lebih mudah untuk terjadinya iskemia dan nekrotik. Tekanan kapiler rata rata adalah sekitar 32 mmHg. Menurut penelitian Sugama (2000) dan Suriadi (2003) tekanan antarmuka yang tinggi merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan. Tekanan antar muka diukur dengan menempatkan alat pengukur tekanan antar muka ( pressure pad evaluator) diantara area yang tertekan dengan matras.

Stadium luka tekan

Menurut NPUAP ( National Pressure Ulcer Advisory Panel )[9], luka tekan dibagi menjadi empat stadium (gambar 2 ), yaitu :

1. Stadium Satu

Adanya perubahan dari kulit yang dapat diobservasi. Apabila dibandingkan dengan kulit yang normal, maka akan tampak salah satu tanda sebagai berikut : perubahan temperatur kulit ( lebih dingin atau lebih hangat ), perubahan konsistensi jaringan ( lebih keras atau lunak ), perubahan sensasi (gatal atau nyeri). Pada orang yang berkulit putih, luka mungkin kelihatan sebagai kemerahan yang menetap. Sedangkan pada yang berkulit gelap, luka akan kelihatan sebagai warna merah yang menetap, biru atau ungu.

2. Stadium Dua

Hilangnya sebagian lapisan kulit yaitu epidermis atau dermis, atau keduanya. Cirinya adalah lukanya superficial, abrasi, melempuh, atau membentuk lubang yang dangkal.

3. Stadium Tiga

Hilangnya lapisan kulit secara lengkap, meliputi kerusakan atau nekrosis dari jaringn subkutan atau lebih dalam, tapi tidak sampai pada fascia. Luka terlihat seperti lubang yang dalam

4. Stadium Empat

Hilangnya lapisan kulit secara lengkap dengan kerusakan yang luas, nekrosis jaringan, kerusakan pada otot, tulang atau tendon. Adanya lubang yang dalam serta saluran sinus juga termasuk dalam stadium IV dari luka tekan.

Menurut stadium luka tekan diatas, luka tekan berkembang dari permukaan luar kulit ke lapisan dalam ( top-down). Namun menurut hasil penelitian saat ini, luka tekan juga dapat berkembang dari jaringan bagian dalam seperti fascia dan otot walapun tanpa adanya adanya kerusakan pada permukaan kulit[21]. Ini dikenal dengan istilah injuri jaringan bagian dalam (Deep Tissue Injury). Hal ini disebabkan karena jaringan otot dan jaringan subkutan lebih sensitif terhadap iskemia daripada permukaan kulit. Kejadian DTI sering disebabkan karena immobilisasi dalam jangka waktu yang lama, misalnya karena periode operasi yang panjang. Penyebab lainnya adalah seringnya pasien mengalami tenaga yang merobek (shear).

Jenis luka tekan ini lebih berbahaya karena berkembang dengan cepat daripada luka tekan yang dimulai dari permukaan kulit. Kebanyakan DTI juga lebih sulit disembuhkan walaupun sudah diberikan perawatan yang adekuat [3]. NPUAP dan WOCN (2005) menyimpulkan bahwa DTI masuk ke dalam kategori luka tekan, namun stadium dari DTI masih diperdebatkan karena stadium yang selama ini ada merepresentasikan luka tekan yang dimulai dari permukaan menuju kedalam jaringan (top-down), sedangkan DTI dimulai dari dalam jaringan menuju ke kulit superficial ( bottom-up)[3].

Selama ini perawat sulit untuk mengidentifikasi adanya DTI karena kerusakan pada bagian dalam jaringan sulit untuk dilihat dari luar[15]. Yang selama ini sering digunakan sebagai tanda terjadinya DTI pada pasien yaitu adanya tanda trauma yang dalam atau tanda memar pada jaringan[3]. Pada orang yang berkulit putih, DTI sering nampak sebagai warna keunguan atau kebiruan pada kulit. Saat ini terdapat metode yang reliabel untuk mengenali adanya DTI, yaitu dengan menggunakan ultrasonografi. Bila hasil ultrasonografi menunjukan adanya daerah hypoechoic, maka ini berarti terdapat kerusakan yang parah pada jaringan bagian dalam, meskipun tidak ada kerusakan dipermukaan kulit atau hanya minimal[15]]. Gambar 4 menunjukan adanya daerah hypoechoic (lingkaran merah) pada pemeriksaan dengan menggunakan ultrasonografi.

Pencegahan dan intervensi awal pasien dengan luka tekan :

1. Kaji resiko individu terhadap kejadian luka tekan

2. Pengkajian resiko luka tekan seharusnya dilakukan pada saat pasien memasuki RS dan diulang dengan pola yang teratur atau ketika ada perubahan yang signifikan pada pasien, seperti pembedahan atau penurunan status kesehatan[5]. Beberapa instrumen pengkajian resiko dapat digunakan untuk mengetahui skor resiko. Diantara skala yang sering digunakan adalah skala Braden dan Norton[18]. Saat ini skala Braden telah diuji validitasnya di Indonesia, dan memiliki nilai validitas dan reliabilitas yang tinggi [17].

3. Identifikasi kelompok kelompok yang beresiko tinggi terhadap kejadian luka tekan. Orangtua dengan usia lebih dari 60 tahun, bayi dan neonatal, pasien injuri tulang belakang adalah kelompok yang mempunyai resiko tinggi terhadap kejadian luka tekan[12].

4. Kaji keadaan kulit secara teratur
a. Pengkajian kulit setidaknya sehari sekali
b. Kaji semua daerah diatas tulang yang menonjol setidaknya sehari sekali .
c. Kulit yang kemerahan dan daerah diatas tulang yang menonjol seharusnya tidak dipijat karena pijatan yang keras dapat mengganggu perfusi ke jaringan[1].

5. Kaji status mobilitas.
Untuk pasien yang lemah, lakukanlah perubahan posisi. Ketika menggunakan posisi lateral, hindari tekanan secara langsung pada daerah trochanter. Bila ingin memposisikan pasien pada posisi lateral, maka posisikanlah pasien pada posisi lateral inklin 30 , posisi ini memungkinkan distribusi tekanan pada daerah yang lebih luas[16]. Posisi lateral inklin 30 derajad terdapat pada gambar 5.

Untuk menghindari luka tekan didaerah tumit, gunakanlah bantal yang diletakan dibawah kaki bawah. Bantal juga dapat digunakan pada daerah berikut untuk mengurangi kejadian luka tekan :

● Diantara lutut kanan dan lutut kiri
● Diantara mata kaki
● Dibelakang punggung
● Dibawah kepala

6. Minimalkan terjadinya tekanan.
● Hindari menggunakan kasa yang berbentuk donat di tumit[14]. Perawat dirumah sakit di Indonesia masih sering menggunakan donat yang dibuat dari kasa atau balon untuk mencegah luka tekan. Menurut hasil penelitian Sanada (1998) ini justru dapat mengakibatkan region yang kontak dengan kasa donat menjadi iskemia.
● Rendahkan kepala tempat tidur 1 jam setelah makan, bila tidak mungkin karena kondisi pasien, maka kajilah daerah sakral lebih sering
● Tentukanlah jenis matras yang sesuai dengan kondisi pasien[19].

7. Kaji dan minimalkan terhadap pergesekan (friction)dan tenaga yang merobek (shear).

Bersihkan dan keringkan kulit secepat mungkin setelah episode inkontinensia. Kulit yang lembab mengakibatkan mudahnya terjadi pergesaran dan perobekan jaringan. Pertahankan kepala tempat tidur pada posisi 30 atau dibawah 30 derajat untuk mencegah pasien merosot yang dapat mengakibatkan terjadinya perobekan jaringan[19].

8. Kajilah inkontinensia

Kelembapan yang disebabkan oleh inkontinensia dapat menyebabkan maserasi. Lakukanlah latihan untuk melatih kandung kemih (bladder training) pada pasien yang mengalami inkontinesia. Hal lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya luka tekan adalah :

● Bersihkanlah setiap kali lembab dengan pembersih dengan PH seimbang.
● Hindari menggosok kulit dengan keras karena dapat mengakibatkan trauma pada kulit.
● Pembersih perianal yang mengandung antimikroba topikal dapat digunakan untuk mengurangi jumlah mikroba didaerah kulit perianal[10]..
● Gunakalah air yang hangat atau sabun yang lembut untuk mencegah kekeringan pada kulit. Kulit orangtua lebih kecil toleransinya dari efek kekeringan karena sabun dan air panas[19]..
● Berikanlah pelembab pada pasien setelah dimandikan untuk mengembalikan kelembaban kulit.
● Bila pasien menggunakan diaper, pilihlah diaper yang memiliki daya serap yang baik, untuk mengurangi kelembapan kulit akibat inkontinensia.

9. Kaji status nutrisi
● Pasien dengan luka tekan biasanya memiliki serum albumin dan hemoglobin yang lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka yang tidak terkena luka tekan[11]
● Kajilah status nutrisi yang meliputi berat badan pasien, intake makanan, nafsu makan, ada tidaknya masalah dengan pencernaan, gangguan pada gigi, riwayat pembedahan atau intervensi keperawat/medis yang mempengaruhi intake makanan[19].

10. Kaji dan monitor luka tekan pada setiap penggantian balutan luka[19].
meliputi :

● Deskripsi dari luka tekan meliputi lokasi, tipe jaringan ( granulasi, nekrotik, eschar), ukuran luka, eksudat ( jumlah, tipe, karakter, bau), serta ada tidaknya infeksi.
● Stadium dari luka tekan
● Kondisi kulit sekeliling luka
● Nyeri pada luka

11. Kajilah faktor yang menunda status penyembuhan

● Penyembuhan luka seringkali gagal karena adanya kondisi kondisi seperti malignansi, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, pneumonia
● Medikasi seperti steroid, agen imunosupresif, atau obat anti kanker juga akan mengganggu penyembuhan luka[18].

12. Evaluasi penyembuhan luka
● Luka tekan stadium II seharusnya menunjukan penyembuhan luka dalam waktu 1 sampai 2 minggu. Pengencilan ukuran luka setelah 2 minggu juga dapat digunakan untuk memprediksi penyembuhan luka. Bila kondisi luka memburuk atau terjadi deteriorasi pada luka, evaluasilah luka secepat mungkin[21].

● Parameter untuk penyembuhan luka termasuk dimensi luka, eksudat, dan jaringan luka.
● Pantaulah perkembangan dari penyembuhan luka dengan menggunakan instrumen/skala. Contoh instrumen yang sering digunakan untuk mengkaji penyembuhan luka adalah PSST (pressure sore status tool ), dan PUSH ( pressure ulcer scale for healing)[4].

13. Kajilah komplikasi yang potensial terjadi karena luka tekan seperti abses, osteomielitis, bakteremia, fistula[19].

14. Berilah pasien edukasi berupa penyebab dan faktor resiko untuk luka tekan dan cara cara untuk meminimalkan luka tekan.

Acknowledgement

I would like to thank to Professor Hiromi Sanada and Gojiro Nakagami for the figures and helping me in creating this article.

Daftar Pustaka

1. Agency for Health Care Policy and Reseach, U.S. Department of health and Human Services. Pressure ulcers in adult: prediction and prevention. 1992. Rockville

2. Allman R.M.,Goode,P.S, Patrick,M.M.,et al. Pressure ulcer risk factors among hospitalized patients with activity limitations. Journal of the american Medical association. 1995;273:865-870

3. Ankrom A.M., Bennet G.R., Sprigle S.,et al. Pressure-related deep tissue injury under intact skin skin and the current pressure ulcer staging systems. Advances in skin and wound care.2005;18:35-42

4. Bates -Jensen . Indices to include in wound healing assessment. Advances in Wound Care. 1995;8:25-3

5. Berlowitz D.R., Brandeis. G.H., Anderson J., Du W, et al. Effect of pressure ulcers on the survival of long -term care residents. The Journal Of Gerontology. 1997, 52A

6. Braden BJ, Bergstrom N . A conceptual schema for the study of the etiology of pressure sores. Rehab Nursing, 2000, 25, 105-110

7. Defloor T., The Risk of Pressure Sores: Aconceptual scheme. Journal of Clinical Nursing, 1999;8:206-216,.

8. Guenter P., Malyszck R.,Bliss D.Z.,et al. Survey of nutritional status in newly hospitalized patiens with stage III or stage IV pressure ulcers. Advances in Wound Care.2000;13:164-168

9. National Pressure Ulcer Advisory Panel. Push Tools. Available at : http://www.npuap.org. Accesed Desember 2006

10. Newman. D.K., Wallace.D.W., et.al Moisture control and incontinence management. In D.L Krasner.G.T. Rodeheaver,and R.G Sibbald, Chronic wound care : A clinical source book for healthcare professionals (3rd ed).2001. Wayne,PA:HMP communication

11. Pieper B., Sugrue M., Weiland M., et al. Risk factor, prevention methods, and wound care for patients with pressure ulcers. Clinical Nurse Speacialist.1998;12:7

12. Quigley. S.M., Curley. M.A.Q. Skin Integrity in The Pediatric Population: preventing and managing pressure ulcers. Journal Of The Society Of Pediatric Nurses. 1996;1(1):7

13. Republika. Dekubitus. Available at: www.republika.co.id. Acessed Desember 2006.

14. Sanada, H. Pressure ulcers management. http://square.umin.ac.jp/sanada/english/show-e.html. Accessed Desember 2006

15. Sato M., Sanada H., Konya C., et al. Prognosis stage I and related factors. International Wound Journal. 2006;3:335-362

16. Sugama., J., Sanada, H., Kanagawa, K., et al . Risk factors of pressure sore development, intensive care unit, Pressure – relieving care, the Japanese version of the Braden Scale. Kanazawa Junior Collage, 1992, 16, 55-59

17. Suriadi, Sanada H, Kitagawa A, et.al. Study of reliability and validity of the braden scale translated into indonesia. 2003. Master thesis. Kanazawa University, Japan

18. Sussman, C. & Bates-Jensen, B.M.. Wound Care: a collaborative practice manual for physical therapist and nurses. Second Edition. Gaithersburg: AN Aspen publication, 2001,235 – 260

19. Wound Ostomy and Continence Nurses Society : Guideline for prevention and management of pressure ulcers, 2003, 1-15

20. Wound, Ostomy, and Continence Nurses Society. WOCN society response to NPUAP white papers: Deep tissue injury, stage 1 pressure ulcer, and stage II pressure ulcers. Glenview ill: Wound, Ostomy, and Continence Nurses Society;2005

21. Van Rijswijk L., Braden B. Pressure ulcer patient and wound assessment: An AHCPR clinical parctice guideline update. ostomy/Wound Management.1999;45(suppl.1A):56S-67S

Cambuk Hati

January 2nd, 2007 by waro-an

Kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Allah akan mengenali saat kamu susah.
Janganlah kamu bersikap lemah & bersedih hati
Andalah orang yang paling mulia.
“dalam tubuh ini terdapat segumpal daging yang memotori semua anggota tubuh lainnya. jika ia baik, semuanya pun menjadi baik dan jika ia rusak, semuanya pun menjadi rusak. itulah yang disebut kalbu” (HR. Bukhari dan Muslim)