Tata Laksana Demam Berdarah Dengeu
April 5th, 2007 by waro-anTata Laksana Demam Berdarah Dengeu
Petunjuk Praktis Terapi Cairan
Pdpersi, Jakarta
- Kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Indonesia dicurigai di Surabaya
pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun
1970. Saat kejadian luarbiasa berlangsung pada tahun 1988, 1039 pasien
dirawat di RSCM dengan case-fatality rate (CFR) mencapai 13%. Data
bagian Rekam Medik RSCM pada tahun 2000 menunjukkan 314 kasus DBD,
dengan CFR 2,2%.
Dengan upaya serta berbagai program Departemen Kesehatan RI
bersama masyarakat berhasil menurunkan CFR nasional dari8 42,8% pada
tahun 1991 menjadi 2% pada saat ini.
Meski pelbagai pedoman pengobatan tersedia tetapi dalam
tatalaksana pasien seringkali dijumpai keadaan yang membingungkan.
Makalah ini dibuat dalam usaha untuk mengatasi kebingungan tersebut di
atas.
Gejala Klinis Demam Berdarah Dengeu
Seperti kita ketahui
diagnosis DBD berdasarkan kriteria WHO (1986). Gejala klinis yang
ditemukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM adalah seperti
terlihat pada tabel di bawah ini:
| GEJALA | 1975 - 1978 | 1985 - 1986 | 1993 - 1995 |
| (%) | (%) | (%) | |
|
Demam |
100 54,5 79,1 18,7 17,9 64,3 37,4 80,7 7,9 27,1 4,4 |
100 69,4 69,4 8,1 6,8 27,7 51,7 59,0 1,6 71,3 23,8 |
100 64,2 64,2 14,2 15,8 16,4 61,5 76,7 8,3 35,0 23,3 |
Nyata terlihat bahwa petekie dan uji coba tourniquet tidak selalu ditemukan pada pasien DBD.
Pemeriksaan Penunjang Serologi Pada DBD
Saat ini uji serologi Dengeu dan IgG seringkali diminta untuk
diperiksa. Pada infeksi primer, IgM akan muncul dalam darah hari ke-3,
mencapai puncaknya pada hari ke-5 dan kemudian menurun serta menghilang
setelah 60 - 90 hari. IgG baru muncul kemudian dan terus ada dalam
darah. Pada infeksi sekunder, IgM pada masa akut terdeteksi pada 70%
kasus, sedang sebagian besar IgG (90%), dapat terdeteksi lebih dini
yaitu pada hari ke-2. Apabila ditemukan hasil IgM dan IgG negatif,
tetapi gejala tetap menunjukkan kecurigaan DBD, dianjurkan untuk
mengambil sampel kedua dengan jarak 3-5 hari bagi infeksi primer dan
2-3 hari bagi infeksi sekunder.
Gambar 3. Muncul antibodi IgM dan IgG pada pasien yang terinfeksi virus
dengue. Dikutip dari : WHO publication No. 548
Tatalaksana
Perjalanan penyakit DBD terbagi atas 3 fase :
- Fase demam yang berlangsung selama 2-7 hari
- Fase kritis/bocornya plasma yang berlangsung umumnya hanya 24-48 jam
- Fase penyembuhan (2-7 hari)
Berdasarkan perjalanan penyakit tersebut maka tatalaksana kasus DBD secara umum dapat dibagi atas 3 fase tadi:
Fase demam
- Pengobatan sistomatik dan suportif
- Parasetamol 10 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam (Aspirin dan Ibuprofen
merupakan indikasi kontra). Kompres hangat diberikan apabila pasien
masih panas. - Pengobatan suportif yang dapat diberikan antara lain larutan oralit, jus buah atau susu dan lain-lain
- Parasetamol 10 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam (Aspirin dan Ibuprofen
- Apabila pasien memperlihatkan tanda dehidrasi dan muntah hebat,
koreksi dehidrasi dan apabila cairan intra vena tidak dapat dihentikan,
jangan lebih dari 24 jam. Apabila cairan intra vena tidak dapat
dihentikan, berikan cairan secukupnya, sekitar separuh kebutuhan rumatan - Semua pasien tersangka dengeu harus diawasi dengan ketat setiap sejak hari sakit ke-3
Selama fase demam, sulit untuk membedakan antara pasien demam dengeu
(DD) dengan DBD. Ruam makulopapular dan mialga/artralgia lebih banyak
ditemukan pada pasien dengeu. Setelah bebas demam selama 24 jam tanap
antipiretik, pasien demam dengeu akan masuk dalam fase penyembuhan,
sedangkan pasien DBD memasuki fase kritis. Sebagian pasien ini sembuh
setelah pemberian cairan intravena, sedangkan kasus berat akan jatuh ke
dalam fase syok.
Pemantauan
Pemeriksaan Fisis:
- Tanda vital
- Waspada gejala syok
- Perabaan hati
- Hati yang membesar dan lunak merupakan indikasi mendekati fase kritis, pasien harus diawasi ketat dan dirawat di rumah sakit
Pemeriksaaan Laboratorium:
- Darah tepi
- Leukopenia < 5000 sel/mm3 dam limfosis, peningkatan limmbosit
atipikal mengindentifikasikan dalam waktu 24 jam pasien akan bebas
demam serta memasuki fase kritis - Trombositopenia mengidentifikasikan pasien memasuki fase kritis dan memerlukan pengawasan ketat di Rumah Sakit
- Peningkatan nilai Ht 10-20 % mengidentifikasikan pasien memasuki
fase kritis dan memerlukan pengobatan cairan intravena apabila pasien
tidak dapat minum oral. Pasien harus dirawat dan diberikan cairan
sesuai kebutuhan. Penurunan Ht merupakan tanda-tanda perdarahan
Berikan penerangan pada orang tua mengenai pertanda gejala syok yang
mengharuskan orang tua membawa anaknya ke Rumah Sakit, antara lain:
- Keadaan memburuk sewaktu pasien mengalami penurunan suhu
- Setiap perdarahan
- Nyeri abdominal akut dan hebat
- Mengantuk,lemah badan,tidur sepanjang hari
- Menolak untuk makan dan minum
- Lemah badan,gelisah
- Perubahan tingkah laku
- Kulit dingin dan lembab
- tidak b.a.k selama 4-6 jam
Indikasi rawat
- Adanya tanda-tanda syok
- Sangat lemah sehingga suapan oral tidak dapat mencukupi
- Perdarahan
- Hitung trombosit kurang dan sama dengan 100,000/mm3 dan atau peningkatan Ht 10-20%
- Perburukan ketika penurunan suhu
- Nyeri abdominal akut hebat
- Tempat tinggal yang jauh dari Rumah Sakit
- Rawat di bangsal khusus atau sudut tersendiri sehingga mudah
mengawasi. Catat tanda vital, asupan dan luaran cairan dalam lembar
khusus - Berikan oksige pada kasus syok
- hentikan perdarahan dengan tindakan yang tepat
- Hindari tindakan prosedur yang tidak perlu, seperti pemasangan pipa nasogastrik pada perdarahan saluran cerna
- Bayi
- DBD derajat III dan IV
- Obesitas
- Perdarahan masif
- Penurunan kesadaran
- Mempunyai penyulit lain, seperti talasemia
- Rujukan
- Trombositopenia, peningkatan Ht 10-20%, pasien tidak dapat makan dan minum melalui oral
- Syok
- Kristaloid (jenis cairan pilihan diantaranya: ringer laktat dan ringer asetat terutama pada fase syok)
- Koloid (diidentifikasikan pada keadaan syok berulang atau syok berkepanjangan)
- Selama fase kritis pasien harus menerima sejumlah cairan rumatan ditambah defisit 5-8 % atau setara dehidrasi sedang
- Pada pasien dengan berat badan lebih dari 40 kg, total cairan intravena dengan dua kali rumatan
- Pada pasien obesitas, perhitungkan cairan intravena berdasarkan berat badan ideal.
- Pada kasus non syok, untuk pasien dengan berat badan (BB) dengan
BB<15 kg, awali dengan 6-7 ml/kg/jam. Antara 15-40 kg awali dengan
tetesan sebanyak 5 ml/kg/jam, sedangkan pada anak dengan BB>40 kg
cairan cukup 3-4 ml/kg/jam. Untuk kasus DBD derajat III, mulai dengan
tetesan 10 ml/kg/jam - Kasus DBD derajat IV, berikan cairan 10 ml/kgBB atau tetesan lepas
selama 10-15 menit sampai tekanan darah dan nadi dapat diukur, kemudian
turunkan sampai 10 ml/kg/jam - Kondisi klinis: penampilan umum, pengisisan kapiler, nafsu makan
- Tanda vital: tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nafas
- Hematokrit
- Luaran urin
- Setelah resusitasi awal, pantau pasien 1 samapai 2 jam. Apabila
tetesan tidak dapat dikurangi manjadi <10 ml/kg/jam, oleh karena
tanda vital tidak stabil (tekanan nadi sempit, cepat dan lemah), ulangi
pemerikasaan Ht - Apabila ada kenaikan, ganti cairan dengan koloid
(pilihan:dextran-40) dengan tetesan 10 ml/kg/jam, siapkan darah dan
nilai kembali pasien untuk kemungkinan pemberian transfusi darah
apabila diperlukan - Pada pasien derajat IV:
- Apabila nilai Ht awal rendah, pikirkan kemungkinan perdarahan
internal dan pantau nilai Ht lebih sering, berikan transfusi darah
segera - Koreksi gangguan metabolit dan elektrolit, seperti hipoglikemia, hiponatremia, dan asidosis
- Setelah 6 jam, apabila Ht menurun, meski telah diberikan sejumlah
besar cairan pengganti, tetesan tidak dapat diturunkan sampai < 10
ml/kg/jam, maka pertimbangkan untuk pemberian transfusi darah segera
- Apabila nilai Ht awal rendah, pikirkan kemungkinan perdarahan
- Dextran-40 (10% dekstran dalam normal salin) hiperonkogenitas
(osmolaritas 3X dari plasma), sehingga dapat mengikat volume lebih
baik. Cairan koloid lain, atau plasma sendiri merupakan plasma
pengganti dan mempunyai osmolaritas 1-1,4X daripada plasma - Tetesan dextran-40 harus 10 ml/kg/jam sehingga dapat mempertahankan osmolaritas maksimum ketika diberikan kepada pasien
- Dosis maksimum dekstran-40 adalah 30 ml/kg/jam. Jangan memberikan
lebih dari sejumlah ini karena akan menyebabkan gagal ginjal akut - Kehilangan darah bermakna, mis. > 10% volume darah total (Total
volume darah=80 ml/kg). Berikan darah sesuai kebutuhan. Apabila packed
red cell (PRC) tidak tersedia, dapat diberikan sediaan darah segar - Pasien dengan perdarahan tersembunyi. Penurunan Ht dan Tanda Vital
yang tidak stabil meski telah diberi cairan pengganti dengan volume
yang cukup banyak, berikan sediaan darah segar 10 ml/kg/kali atau PRC 5
ml/kg/kali - Keadaan umum membaik
- Meningkatnya nafsu makan
- Tanda vital stabil
- Ht stabil dan menurun sampai 35-40%
- Diuresis cukup
- Dapat ditemukan confluent petechial rash
- Sinus bradikardi
- Paling tidak 24 jam tidak demam tanpa antipiretik
- Secara klinis tampak perbaikan
- Nafsu makan baik
- Nilai Ht stabil
- Tiga hari sesudah syok
- Tidak ada sesak nafas atau takipnea
- trombosit kurang dari dan sama dengan 50.000/mm3
Fase kritis (berlangsung 24-48 jam) sekitar hari ke-3 sampai dengan hari ke-5 perjalanan penyakit
Umumnya pada fase ini pasien tidak dapat makan dan minum oleh karena anoreksia atau dan muntah
Tatalaksana umum
Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada pasien dengan resiko tinggi, seperti:
Tatalaksana Cairan
Indikasi pemberian cairan intravena:
Jenis cairan pilihan
Jumlah cairan
Tetesan
Penyesuaian tetesan
Setelah masa kritis terlampaui maka pasien akan masuk dalam fase
penyembuhan, yang mana pada saat ini keadaan overload mengancam. Pada
pasien DBD cairan intravena harus diberikan dalam jumlah minimal agar
sirkulasi intrvaskuler tetap memadai, sebab apabila lebih banyak cairan
yang diberikan akan terjadi kebocoran ke dalam rongga pleura dan
abdominal yang menyebabkan distres pernafasan di kemudian hari. Tetesan
intravena harus disesuiakan dengan :
Enam sampai 12 jam pertama setelah syok, tekanan darah dan nadi
merupakan parameter penting untuk menentukan tetesan, tetapi kemudian
perhitungkan semua parameter sekaligus sebelum mengatur tetesan.
Pemantauan syok
Cairan koloid pilihan
lama pemberian cairan
Jangan melebihi 24-48 jam
Indikasi transfusi darah
Indikasi transfusi trombosit
Hanya diberikan pada perdarahan masif. Dosis: 0,2 U/kg/dosis
Fase penyembuhan
Secara umum, sebagian besar pasien DBD akan sembuh tanpa komplikasi
dalam waktu 24-48 jam setelah syok. Indikasi pasien masuk ke dalam fase
penyembuhan adalah:
Cairan intravena harus dihentikan segera apabila memasuki fase
ini. Apabila nafsu makan tidak meningkat dan perut terlihat kembung
dengan atau tanpa penurunan atau menghilangnya bising usus, kadar
kalium harus diperiksa oleh karena terjadi fase hipokalemia pada fase
ini (fase diuresis). Buah-buahan atau jus buah atau larutan oralit
dapat diberikan untuk menanggulangi gangguan elektrolit ini
Indikasi pulang
Kesimpulan
Menegakkan diagnosis serta tatalaksana infeksi dengeu tidaklah mudah,
untuk itu perlu dipahami perjalanan penyakit agar tercapai pengobatan
yang rasionil, dalam rangka upaya mengurangi angka kematian.
Oleh: Hindra Satari
Bag. Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM

). Antitusif bekerja dengan menekan refleks batuk, contohnya Dextromethorphan.
), contohnya Guaifenesin.